JATENGKU.COM, Bogor — Banyak masyarakat yang mempertanyakan kenapa buah import di supermarket lebih tahan lama dan terlihat mengkilap. Lapisan apa yang melapisi buah tersebut? Sebagian besar orang sebenarnya sudah cukup familiar dengan istilah edible coating. Sebuah survei menunjukkan bahwa sekitar 82,86% responden sudah mengetahui informasi tentang edible coating (Agustina et al. 2025). Namun di sisi lain banyak orang yang juga masih memiliki kekhawatiran terkait keamanannya. Pengetahuan yang memadai dan informasi mengenai keamanan penggunaan bahan edible coating berpengaruh terhadap keputusan konsumen untuk membeli produk buah dengan edible coating.
Apa itu edible coating?
Secara sederhana, edible coating yaitu sebuah lapisan tipis yang berfungsi sebagai pelindung permukaan buah dan sayur agar kesegarannya bertahan lebih lama. Lapisan ini dikategorikan sebagai kemasan primer yang terbuat dari bahan-bahan alami sehingga aman dan dapat dikonsumsi bersama dengan produknya. Bahan penyusunnya dapat berupa pati dari berbagai jenis hasil pertanian seperti singkong, ubi jalar, selain itu juga berasal dari protein, hingga lemak (seperti lilin lebah). Sebagai salah satu bahan yang potensial, pelapis digunakan untuk membuat pembatas antara bahan pangan dengan atmosfer lingkungannya sehingga dapat mempertahankan kualitas dan memperpanjang masa simpan produk segar.
Mengapa buah dan sayur perlu dilapisi?
Setelah dipanen, buah dan sayur tetap mengalami respirasi “bernafas” dan transpirasi “mengeluarkan air”. Jadi jika proses ini cepat terjadi setelah panen, maka buah akan cepat matang, keriput, dan akhirnya membusuk. Di sinilah pelapis edible diperlukan. Edible coating bekerja sebagi perisai tak kasat mata yang memiliki fungsi hebat:
- Mengontrol respirasi: lapisan ini dapat memperlambat laju respirasi sehingga kematangan bisa ditunda
- Menghambat penguapan: komponen dalam pelapis menjaga agar air di dalam buah tidak banyak menguap, sehingga buah tidak cepat keriput akibat kehilangan air.
- Pelindung: pelapis ini juga bisa melindungi buah dari serangan jamur atau bakteri penyebab pembusukan.

Dari apa pelapis ini dibuat?
Bahan-bahan pembuat pelapis ini biasanya diambil dari sumber organik seperti polisakarida (pati ubi kayu, keragenan, alginat atau kitosan) yang sangat baik untuk mengatur pertukaran udara, protein (gelatin atau protein kedelai) memberikan kekuatan mekanik yang baik pada lapisan, lipid (lilin lebah) yang menjaga agar air tidak keluar dan memberikan efek mengkilap pada permukaan buah, dan lainya.
Penelitian terbaru menunjukkan pengembangan edible coating berbasis rumput laut (Padina pavonica) dan biopolymer natrium alginate untuk mengawetkan mangga pasca panen. Kandungan fenolik dan flavonoid yang tinggi pada ekstrak alga tersebut, yang memberikan efek antioksidan serta antimikroba yang kuat terhadap bakteri dan jamur perusak buah. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa penggunaan pelapis ini mampu memperpanjang masa simpan buah hingga 20 hari dengan menjaga kekencangan tekstur dan menghambat pembusukan
Tantangan dan Masa Depan
Meski sangat bermanfaat, penggunaan pelapis ini harus tepat. Jika lapisan terlalu tebal, buah justru tidak bisa bernapas sama sekali (respirasi anaerobik) yang bisa menimbulkan rasa dan aroma aneh (off-flavor).
Dengan meningkatnya kesadaran hidup sehat, penggunaan pelapis edibel menjadi harapan besar untuk menekan angka limbah pangan sekaligus memberikan produk berkualitas tinggi yang tampak selalu segar dan cantik di meja makan kita.
Referensi:
- de BS Souza, MVD, Diniz, AG, Silva, VBG, Buonafina-Paz, MDS, dos Santos, JEF, Costa, WK, … & Júnior, SA (2025). Pengembangan pelapis berbahan dasar rumput laut yang dapat dimakan untuk pengawetan mangga pascapanen. Biokatalisis dan Bioteknologi Pertanian, 67, 103620. Doi: https://doi.org/10.1016/j.bcab.2025.103620.
- Leonard V. 2023. Karakteristik dan aplikasi edible coating pada buah dan sayur. Zigma, 38(2), 120-132.
- Novita M, Sugiyono, Suyatma EN, Yuliani S. 2022. Pemanfaatan pelapis edibel untuk mempertahankan kualitas buah dan sayur segar. Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 41(2), 65-73. DOI: http://dx.doi.org/10.21082/jp3.v41n2.2022.p65-73.