Bukan Sekadar Kehilangan Orang Tersayang, Makna...

Bukan Sekadar Kehilangan Orang Tersayang, Makna dari Judul Novel “Kehilangan Mestika” Tentang Hilangnya Hak Perempuan.

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, Jakarta — Novel Kehilangan Mestika tahun 1935 karya Hamidah sering kali dibaca sebagai cerita tentang tragedi cinta. Narasi besarnya kerap disederhanakan menjadi kisah pilu seorang perempuan yang gagal bersatu dengan kekasihnya karena ajal dan restu keluarga. Namun, membaca karya ini juga dapat mengungkap makna lain yang jauh lebih kelam. Judul Kehilangan Mestika sebenarnya bukan sekadar tentang patah hati atau kehilangan kekasih. Novel ini adalah sebuah protes keras, sebuah gugatan terhadap hilangnya kebebasan, dan hak perempuan atas masa depannya sendiri akibat belenggu adat patriarki yang kaku.

Secara harfiah, mestika berarti permata yang sangat berharga. Dalam tatanan sosial masyarakat di era tersebut dapat diartikan mestika menjadi seorang perempuan diukur dari kepatuhan sepenuhnya terhadap tradisi. Perempuan dianggap berharga jika mereka diam di dalam pingitan, menerima jodoh pilihan keluarga, dan menjadi sosok yang penurut. Kritik tajam Hamidah dalam novel ini justru membongkar standar ganda tersebut. Ketika tokoh Hamadiah berusaha mendefinisikan mestika dirinya lewat pendidikan dan kemandirian, lingkungan sosialnya justru menganggap hal itu sebagai ancaman yang harus diredam.

“…gadis-gadis mesti dipingit, tak boleh kelihatan oleh orang yang bukan sekeluarga lebih-lebih oleh laki-laki. Adat inilah yang lebih dahulu mesti diperangi ” (Hamidah, 1935: 18).

Kutipan tersebut menggambarkan bahwa Hamidah sangat sadar mengenai adanya diskriminasi gender yang bersembunyi di balik tameng adat istiadat. Baginya, pingitan bukan sekadar tradisi leluhur untuk menjaga kehormatan, melainkan sebuah penindasan yang memotong hak-hak dasar perempuan untuk melihat dunia, belajar, dan berkembang. Kata “diperangi” dalam kutipan di atas menegaskan bahwa adat kaku tersebut adalah musuh utama kemajuan. Melalui kesadaran ini, novel Kehilangan Mestika membuktikan bahwa perempuan tidak boleh hanya pasrah menerima keadaan. Keberhargaan atau mestika sejati seorang perempuan tidak akan pernah tercapai selama ruang gerak dan hak pilihnya masih dipenjara oleh aturan-aturan patriarki.

Tragedi terbesar dalam novel ini terjadi saat keluarga yang diwakili oleh kakak ipar Hamidah justru mengambil alih kendali hidupnya melalui perjodohan paksa. Di titik ini terlihat adanya kondisi di mana perempuan tidak dihargai untuk memilih. Hamidah tidak lagi diperlakukan sebagai seseorang yang memiliki kehendak, melainkan sebagai sosok yang digunakan demi menjaga adat atau status keluarga. Makna judul novel ini pun dapat menjadi kekosongan jiwa yang dialami tokoh utama bukan karena dia tidak bersuami, kehilangan pasangan atau ibunya, melainkan dapat berupa kehilangan hak mendasar untuk memilih jalan hidupnya telah dirampas.

Meskipun ditulis hampir satu abad yang lalu, kritik dalam Kehilangan Mestika masih dirasakan kuat hingga hari ini. Praktik pingitan fisik mungkin sudah ditinggalkan oleh masyarakat modern. Namun, pingitan mental dan pembatasan ruang gerak perempuan masih sering terjadi dalam bentuk yang berbeda. Perempuan hari ini masih sering menghadapi pandangan tersebut ketika memilih fokus pada karir atau pendidikan tinggi. Standar masyarakat sering kali masih menghakimi keberhargaan seorang perempuan hanya dari status pernikahan atau sebagai ibu yang baik yang merawat anak dan rumah, persis seperti dinding adat yang dihadapi tokoh Hamidah pada tahun 1935.

Melalui Kehilangan Mestika, penulisnya telah memberikan peringatan yang ternyata melampaui zamannya. Novel ini sukses menjadi kritik yang menggugah kesadaran pembaca. Kehilangan terbesar seorang perempuan bukanlah kehilangan pasangan hidup atau reaksi dari masyarakatnya. Kehilangan mestika yang sesungguhnya adalah ketika seorang perempuan kehilangan suara, hak, dan kendali penuh untuk menentukan nasibnya sendiri.

Firman Setiawan

Penulis: Adzkia Nisa Humaira

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan