AI dan Ancaman Baru Terhadap Ketersediaan Air B...

AI dan Ancaman Baru Terhadap Ketersediaan Air Bersih

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, Tangsel — Kemajuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sering dipandang sebagai simbol masa depan yang lebih modern dan efisien. Berbagai aktivitas kini dapat dilakukan dengan lebih cepat berkat bantuan AI, mulai dari mencari informasi, membuat tulisan, menghasilkan gambar, hingga menganalisis data dalam jumlah besar.

Namun, di balik kecanggihan tersebut, terdapat persoalan yang belum mendapat perhatian yang cukup, yaitu tingginya penggunaan air bersih untuk mendukung operasional pusat data AI. Jika perkembangan AI terus dibiarkan tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan, bukan tidak mungkin teknologi yang diciptakan untuk membantu manusia justru memperparah krisis sumber daya yang sangat penting bagi kehidupan, yakni air bersih.

Menurut teori pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development), pembangunan harus mampu memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya. Teori ini mengajarkan bahwa kemajuan ekonomi dan teknologi harus berjalan seimbang dengan pelestarian lingkungan. Sayangnya, perkembangan AI saat ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam mewujudkan keseimbangan tersebut. Banyak orang menikmati manfaat AI setiap hari, tetapi hanya sedikit yang menyadari bahwa setiap interaksi dengan teknologi tersebut memerlukan energi dan air dalam jumlah yang tidak sedikit.

Kekhawatiran terhadap penggunaan air oleh industri AI bukanlah sekadar asumsi. Kompas melaporkan bahwa pusat data AI membutuhkan sistem pendingin khusus untuk menjaga suhu server tetap stabil. Dalam proses tersebut, air bersih digunakan sebagai media utama untuk menguapkan panas yang dihasilkan oleh server. Bahkan, setiap kilowatt-hour (kWh) energi yang digunakan untuk mendinginkan server AI dapat menghabiskan hingga 9 liter air.

Selain itu, pembangkit listrik yang menyuplai energi ke pusat data juga membutuhkan air dalam jumlah besar. Di Amerika Serikat, sistem pembangkit termoelektrik rata-rata menggunakan 43,8 liter air untuk setiap kWh listrik yang dihasilkan. Fakta ini menunjukkan bahwa penggunaan air dalam industri AI tidak hanya terjadi pada proses pendinginan, tetapi juga pada proses penyediaan energi yang mendukungnya.

Data lain yang tidak kalah mengkhawatirkan disampaikan oleh BBC Indonesia. International Energy Agency (IEA) memperkirakan bahwa satu kueri ChatGPT menggunakan hampir sepuluh kali lebih banyak listrik dibandingkan satu pencarian Google. Semakin tinggi kebutuhan listrik, semakin besar panas yang dihasilkan, dan semakin banyak pula air yang dibutuhkan untuk mendinginkan sistem. Profesor Shaolei Ren dari University of California, Riverside, bahkan menyatakan bahwa “semakin banyak AI yang kita gunakan, semakin banyak air yang kita konsumsi.” Pernyataan tersebut memperlihatkan hubungan yang sangat erat antara pertumbuhan AI dan meningkatnya konsumsi air dunia.

Menurut saya, persoalan ini menjadi semakin serius karena terjadi ketika dunia sedang menghadapi krisis air. PBB mencatat bahwa hampir dua pertiga populasi dunia mengalami kekurangan air setidaknya selama satu bulan dalam setahun. BBC juga melaporkan bahwa sekitar separuh populasi dunia telah menghadapi masalah kelangkaan air dan dampak perubahan iklim. Di tengah kondisi tersebut, industri AI justru diproyeksikan akan menggunakan air hingga 6,6 miliar meter kubik pada tahun 2027. Angka ini menunjukkan bahwa kebutuhan air untuk teknologi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan upaya manusia dalam menjaga ketersediaan sumber daya air.

Dampak dari kondisi ini tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga kehidupan sosial masyarakat. Berkurangnya cadangan air bersih dapat meningkatkan risiko kekeringan, menurunkan kualitas lingkungan, serta memicu persaingan penggunaan air antara industri dan masyarakat. Di berbagai negara, pembangunan pusat data bahkan telah memunculkan penolakan dari kelompok masyarakat yang khawatir terhadap ketersediaan air di daerah mereka. Kekhawatiran tersebut sangat beralasan, karena air bukan sekedar sumber daya ekonomi, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup manusia.

Namun saya tidak berpendapat bahwa perkembangan AI harus dihentikan. Sebaliknya, AI memiliki potensi besar untuk membantu manusia dalam bidang pendidikan, kesehatan, penelitian, hingga mitigasi perubahan iklim. Namun, pengembangannya harus dilakukan secara lebih bertanggung jawab. Perusahaan teknologi perlu mengurangi ketergantungan pada air bersih melalui inovasi sistem pendingin yang lebih efisien, seperti teknologi pendingin tertutup (closed-loop cooling system) yang memungkinkan air digunakan kembali tanpa banyak terbuang melalui penguapan. Selain itu, penggunaan sumber air non-minum seperti air laut atau air limbah yang telah diolah juga perlu diperluas agar tidak membebani pasokan air bersih masyarakat.

Pandangan Thomas Davin dari UNICEF layak menjadi perhatian bersama. Ia menilai bahwa perusahaan teknologi seharusnya berlomba menuju efisiensi dan transparansi, bukan hanya menciptakan model AI yang semakin besar dan canggih. Saya setuju dengan pandangan tersebut. Saat ini, keberhasilan suatu teknologi sering kali diukur dari kecepatan dan kecanggihannya, padahal dampaknya terhadap lingkungan juga harus menjadi indikator penting. Tanpa transparansi mengenai penggunaan air dan energi, masyarakat akan sulit mengetahui seberapa besar biaya lingkungan yang harus dibayar untuk menikmati layanan AI.

Pada akhirnya, kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia melupakan kebutuhan paling mendasar untuk bertahan hidup. Air bersih adalah hak setiap orang dan merupakan sumber daya yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun. Karena itu, pengembangan AI harus diiringi dengan komitmen kuat terhadap keberlanjutan lingkungan. Saya berharap pemerintah, perusahaan teknologi, dan masyarakat dapat bersama-sama mendorong lahirnya inovasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertanggung jawab. Dengan demikian, AI dapat menjadi alat yang membantu menciptakan masa depan yang lebih baik tanpa mengorbankan ketersediaan air bersih bagi generasi mendatang.

Sumber:

Firman Setiawan

Penulis: Andre Effendi

Mahasiswa Universitas Pamulang

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan