JATENGKU.COM, Jakarta — Tagar #petanimuda di TikTok sudah ditonton ratusan juta kali. Bukan oleh sesama petani yang curhat soal gagal panen, tapi oleh anak-anak muda perkotaan yang penasaran, bahkan mulai terinspirasi. Di platform yang sama tempat orang menonton joget dan drama, sekarang tumbuh subur konten soal cara menanam cabai, hitung-hitungan untung rugi kebun, sampai cara bikin sistem irigasi dari barang bekas. Ada sesuatu yang sedang bergeser di persimpangan antara media sosial dan dunia pertanian Indonesia, dan sudah waktunya kita membahasnya lebih serius dari sekadar ikut-ikutan kagum di kolom komentar.
Tapi sebelum terlalu jauh bicara soal viral dan tren, ada fakta yang perlu kita hadapi lebih dulu. Data BPS menunjukkan rata-rata petani Indonesia saat ini berusia di atas 45 tahun. Bukan angka lama, itu kondisi sekarang. Sensus Pertanian 2023 juga mencatat bahwa jumlah rumah tangga pertanian terus turun dari dekade ke dekade. Orang yang mengurus ketahanan pangan kita semakin sedikit sekaligus semakin tua, sementara generasi penggantinya belum juga kelihatan.
Generasi muda memang sudah lama menjauh dari sektor ini, dan itu bukan tanpa alasan. Gambaran soal bertani yang mereka tumbuh bersama sejak kecil tidak menawarkan sesuatu yang menggiurkan: pekerjaan berat, penghasilan tidak pasti, dan posisi tawar yang selalu lemah di hadapan tengkulak. Yang paling ironis, banyak orang tua yang hidupnya dari bertani justru mendorong anaknya untuk tidak mengikuti jalan yang sama. Kalimat seperti “Sekolah yang bener biar nggak kayak Bapak” bukan hal langka di keluarga-keluarga desa. Efeknya nyata dan berlangsung lintas generasi: regenerasi petani terputus, lahan terbengkalai, dan Indonesia yang katanya punya tanah paling subur di dunia masih terus mengimpor beras, kedelai, bahkan garam.
Di sinilah fenomena yang menarik itu muncul. Beberapa tahun belakangan, ada anak-anak muda yang memilih bertani dan mendokumentasikan prosesnya secara terbuka di media sosial. Mereka fasih bicara di depan kamera, paham algoritma, dan membawa cara pandang yang berbeda dari generasi sebelumnya. Yang membuat konten mereka berpengaruh bukan karena videonya selalu estetik, tapi karena jujur. Laporan keuangan kebun mereka buka ke publik apa adanya, modal berapa, biaya operasional berapa, untung bersihnya berapa. Gagal panen pun diceritakan apa adanya. Pendekatan keterbukaan inilah yang membuat anak muda mulai melihat pertanian bukan lagi sebagai pilihan yang diwariskan karena tidak ada opsi lain, tapi sebagai sesuatu yang bisa dipilih dengan sadar.
Dampaknya mulai terasa nyata. Beberapa perguruan tinggi negeri melaporkan naiknya peminat pada jurusan pertanian dan agribisnis, hal yang tidak terbayangkan satu dekade lalu ketika jurusan ini hampir selalu jadi pilihan terakhir. Di luar kampus, muncul startup agrikultur yang dibangun anak-anak muda berlatar teknologi, dari platform yang menghubungkan petani langsung ke pembeli, aplikasi pemantau kesehatan tanaman berbasis AI, hingga sistem pertanian vertikal untuk lahan sempit perkotaan. Ada pula yang memilih pulang kampung, meninggalkan pekerjaan kantoran di kota untuk mulai bertani secara mandiri. Mereka pulang bukan karena kepepet, tapi karena memang mau, dan mereka membawa bekal yang berbeda: pengetahuan manajemen, jaringan pemasaran digital, dan cara berpikir wirausaha yang membuat mereka lebih siap menghadapi lapangan.
Tapi di sini perlu ada kejujuran juga. Tidak semua konten pertanian di media sosial akurat atau bertanggung jawab. Ada yang terlalu menjanjikan hasil besar dalam waktu singkat tanpa menjelaskan betapa banyak variabel yang bisa membalikkan keadaan di lapangan, mulai dari kondisi tanah yang berbeda tiap daerah, curah hujan yang tidak bisa diprediksi, sampai serangan hama yang datang tiba-tiba. Lebih dari soal akurasi, ada masalah yang lebih mendasar: menonton ratusan video tentang bertani tidak otomatis membuat seseorang bisa bertani. Ada pengetahuan yang hanya tumbuh dari pengalaman langsung yang berulang, tahu kapan tanaman mulai sakit, bisa membaca kondisi tanah, tahu harus bereaksi seperti apa ketika cuaca berubah di tengah musim tanam. Itu tidak bisa dipelajari dari konten 60 detik. Anak muda yang terjun ke lapangan hanya berbekal semangat dan tontonan sangat rentan gagal di awal, dan kegagalan yang tidak diantisipasi itulah yang bisa mematikan semangat mereka jauh sebelum berkembang menjadi keahlian nyata.
Inilah yang paling krusial dari seluruh fenomena ini. Indonesia sedang punya momentum langka: generasi muda yang mulai melirik pertanian bukan karena dipaksa program pemerintah, tapi karena memang tertarik. Ketertarikan organik seperti ini jauh lebih berpotensi bertahan lama dibanding program-program top-down yang selama ini hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Tapi kalau dibiarkan berjalan sendiri tanpa dukungan serius, momentum ini tidak akan otomatis berubah menjadi perubahan nyata.
Pemerintah perlu merespons lebih dari sekadar pernyataan dukungan di media. Program magang pertanian yang terstruktur perlu diperbanyak, bukan kunjungan lapangan satu hari yang isinya lebih banyak foto daripada belajar. Kurikulum SMK pertanian perlu diperbarui agar relevan dengan pendekatan modern yang justru sudah duluan dipraktikkan para kreator konten itu. Akses permodalan untuk petani muda perlu benar-benar dipermudah, bukan hanya tertulis manis di dokumen kebijakan. Para konten kreator pun punya tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan. Bermitra dengan penyuluh pertanian atau peneliti agronomi bukan sekadar soal kredibilitas, tapi soal tanggung jawab terhadap jutaan penonton muda yang mungkin akan mengambil keputusan besar berdasarkan apa yang mereka tonton.
Tapi masalah yang lebih mendasar dari soal akurasi konten adalah ini: menonton ratusan video tentang bertani tidak otomatis membuat seseorang bisa bertani dengan benar. Ada jenis pengetahuan yang hanya bisa tumbuh dari pengalaman langsung yang berulang, tahu kapan daun mulai menunjukkan gejala kekurangan nutrisi, bisa membaca kondisi tanah hanya dari warna dan teksturnya, tahu harus bereaksi seperti apa ketika cuaca tiba-tiba berubah di tengah musim tanam. Semua itu tidak bisa dipelajari dari konten 60 detik, dan tidak bisa disingkat dengan cara apapun. Anak muda yang terjun ke lapangan hanya berbekal semangat dan tontonan sangat rentan mengalami kegagalan di awal musim tanam. Dan kegagalan dini yang tidak diantisipasi itulah yang paling berbahaya, karena bisa mematikan semangat mereka jauh sebelum berkembang menjadi keahlian yang sesungguhnya.
Ketahanan pangan tidak bisa dibangun dari konten yang viral. Ia dibangun dari orang-orang yang benar-benar turun ke sawah dan tahu cara menggarapnya. Tugas kita bersama adalah memastikan jembatan yang sedang terbentuk ini benar-benar mengantarkan anak-anak muda sampai ke ladang. Bukan hanya sampai di kolom komentar.