JATENGKU.COM, Jakarta — Film Sebelum 30 resmi memperkenalkan jajaran pemain dan tim kreatifnya kepada publik melalui acara press conference yang diselenggarakan oleh HaHa Production di Anora 2, Jakarta, pada Senin (30/3). Kegiatan yang berlangsung dari pukul 09.00 WIB hingga 15.00 WIB tersebut menjadi momen perdana bagi para pemeran untuk berbagi cerita mengenai proses produksi, karakter yang mereka perankan, hingga pesan yang ingin disampaikan melalui film karya sutradara Danial Rifki ini.
Dipandu oleh Astry Novita sebagai Master of Ceremony, acara berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Sejumlah pemain utama turut hadir, di antaranya Chicco Kurniawan yang memerankan Ivan, Nadya Arina sebagai Clara, Arif Alfiansyah sebagai Deri, Donny Damara sebagai Sony, Jenny Zhang sebagai Lina, Frans Nickolas sebagai Kevin, Dayu Wijanto sebagai Mira, Gwendolyne sebagai Emelie, Fiorenza Celesta sebagai Vanessa, Raffan sebagai Ivan kecil, dan Daffa Syahputra sebagai Kevin remaja.
Sejak sesi pembukaan, suasana terasa akrab ketika para pemain mulai membahas tema-tema yang diangkat dalam film Sebelum 30. Film ini tidak hanya berbicara tentang perjalanan seseorang menuju usia 30 tahun, tetapi juga menyoroti berbagai persoalan yang sering dihadapi generasi dewasa muda, mulai dari keluarga, pekerjaan, mimpi, hubungan antar manusia, hingga cara memandang masa depan.

Dalam sesi diskusi, Dayu Wijanto yang memerankan sosok Mira atau Bu Mirah menyampaikan pandangannya mengenai karakter yang ia perankan. Menurutnya, sosok seorang ibu memiliki banyak cara untuk menunjukkan kasih sayang kepada anak-anaknya. Meski setiap orang tua memiliki pendekatan yang berbeda, pada akhirnya mereka tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu mendukung dan menguatkan anak-anaknya dalam menjalani kehidupan.
“Setiap ibu punya caranya masing-masing. Namun pada akhirnya, seorang ibu akan selalu hadir untuk mendorong dan mendukung langkah anaknya,” ungkap Dayu.
Cerita yang lebih personal datang dari Arif Alfiansyah yang memerankan Deri. Ia mengaku memiliki keterikatan emosional dengan cerita yang diangkat dalam film ini. Dalam kesempatan tersebut, Arif membagikan pengalaman pribadinya ketika pernah mengalami kerugian akibat investasi yang tidak berjalan sesuai harapan. Pengalaman tersebut membuatnya memahami berbagai emosi yang dialami karakter Deri dalam film.
Menurut Arif, kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan seseorang. Justru dari pengalaman tersebut, seseorang dapat belajar untuk bangkit dan menemukan arah baru dalam hidup. Saat ini, ia mengaku terus berusaha mengembangkan usaha yang dijalankannya sebagai bentuk pembelajaran dari pengalaman masa lalu.
Sementara itu, Nadya Arina mengungkapkan bahwa film Sebelum 30 terasa sangat dekat dengan kehidupannya saat ini. Di usianya yang menginjak 29 tahun, ia melihat banyak kesamaan antara dirinya dengan berbagai keresahan yang dihadirkan dalam cerita film.
Bagi Nadya, investasi tidak hanya berkaitan dengan uang atau keuntungan finansial semata. Investasi juga dapat dimaknai sebagai upaya menjaga kesehatan, membangun hubungan yang baik dengan keluarga, serta meluangkan waktu untuk orang-orang yang dicintai. Selain itu, film ini juga menjadi pengalaman baru baginya karena memerankan karakter yang memiliki sisi berbeda dibandingkan peran-peran yang pernah ia mainkan sebelumnya.
Karakter Emelie yang diperankan oleh Gwendolyne turut memberikan warna tersendiri dalam cerita. Sebagai sosok adik yang usil dan sering menghadirkan momen-momen ringan dalam keluarga, karakter Emelie menunjukkan bahwa hubungan saudara tidak hanya dibangun melalui kebersamaan yang menyenangkan, tetapi juga melalui konflik, pengertian, dan dukungan yang tumbuh seiring waktu.
Di sisi lain, Chicco Kurniawan yang memerankan tokoh utama, Ivan, mengungkapkan bahwa karakter tersebut memiliki kedekatan dengan dirinya dalam hal nilai keluarga dan kepercayaan. Namun, tantangan terbesar yang ia hadapi selama proses pendalaman karakter justru datang dari tema investasi yang menjadi salah satu elemen penting dalam cerita.
Menurut Chicco, ia harus mempelajari berbagai aspek mengenai dunia investasi, mulai dari cara kerja, pola pikir, hingga berbagai risiko yang mungkin dihadapi seseorang ketika mengambil keputusan finansial. Seluruh pemahaman tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam karakter Ivan agar terasa lebih jujur, realistis, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sutradara Danial Rifki menjelaskan bahwa para pemain yang terlibat merupakan pilihan yang tepat untuk membawakan cerita Sebelum 30. Ia melihat setiap pemain mampu menghadirkan karakter yang kuat sekaligus relevan dengan realitas kehidupan masyarakat saat ini.
Danial menggambarkan Sebelum 30 sebagai perpaduan antara tragedi dan komedi. Menurutnya, drama menjadi fondasi utama yang menggerakkan cerita, sementara unsur komedi hadir sebagai pelengkap yang muncul secara natural dari interaksi antar karakter.
“Drama adalah inti ceritanya, sedangkan komedi menjadi sparkling yang membuat perjalanan para tokohnya terasa lebih hidup,” jelas Danial.
Lebih jauh, film ini tidak hanya berusaha menghadirkan hiburan bagi penonton, tetapi juga mengajak masyarakat untuk melihat kehidupan dari perspektif yang lebih luas. Melalui kisah para tokohnya, Sebelum 30 ingin menunjukkan bahwa setiap orang memiliki perjuangan masing-masing dalam menghadapi masa depan, mengambil keputusan, serta belajar dari berbagai kesalahan yang pernah dilakukan.
Film ini juga menyoroti bagaimana tekanan sosial, tuntutan hidup, dan ekspektasi terhadap usia tertentu sering kali menjadi beban yang harus dihadapi oleh banyak orang. Namun di balik berbagai tantangan tersebut, selalu ada kesempatan untuk tumbuh, memperbaiki diri, dan menemukan makna baru dalam perjalanan hidup.
Menjelang akhir acara, para pemain dan tim produksi menyampaikan harapan mereka terhadap film Sebelum 30. Harapan-harapan sederhana seperti “bersenang-senang”, “semangat”, “sehat dan dilancarkan”, hingga keinginan agar film ini dapat tersampaikan secara jujur kepada penonton menjadi penutup yang hangat dalam sesi tersebut.
Melalui film Sebelum 30, HaHa Production bersama Danial Rifki berharap dapat menghadirkan sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu menjadi ruang refleksi bagi penontonnya. Sebuah cerita yang mengingatkan bahwa perjalanan menuju usia 30 tahun bukanlah tentang menjadi sempurna, melainkan tentang keberanian untuk terus belajar, jatuh, bangkit kembali, dan melangkah maju dengan segala pengalaman yang dimiliki.
Karena pada akhirnya, setiap orang memiliki waktunya masing-masing untuk bertumbuh. Dan mungkin, seperti yang ingin disampaikan oleh film ini, kebahagiaan tidak selalu datang ketika semua rencana berjalan sempurna, tetapi ketika seseorang mampu menerima proses dan terus melanjutkan perjalanan hidupnya.