Makan Bergizi Gratis vs Pendidikan Berkualitas:...

Makan Bergizi Gratis vs Pendidikan Berkualitas: Mana yang Harus Menjadi Prioritas?

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, Padang — Makan Bergizi Gratis (MBG), belakangan ini menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Program tersebut dilaksanakan secara bertahap sejak Januari 2025 yang dimulai dari wilayah Jawa. MBG merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan gizi anak dan meningkatkan konsentrasi belajar murid di Indonesia.

Dalam berbagai penelitian, salah satunya yang dilakukan oleh Anggreny (2023), menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara status gizi dengan konsentrasi belajar murid. Siswa yang mengalami kekurangan gizi cenderung sulit dalam berkonsentrasi, serta memiliki capaian akademik yang rendah. Oleh karena itu, program MBG dapat dipandang sebagi investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia, seperti yang disampaikan oleh Presiden Prabowo dalam pengantar pidatonya pada Sidang Kabinet tanggal 5 Mei 2025, di Ruang Sidang Kabinet, Istana Kepresidenan Jakarta.

Namun, dalam pelaksanaannya hingga saat ini justru masih mendapat kritikan dari kalangan masyarakat. Hal itu disebabkan karena gizi yang sampai kepada murid tidak sesuai dengan standar gizi nasional, serta kebersihan dari makanan yang disalurkan kepada murid menjadi hal yang paling disoroti. Tidak hanya itu, anggaran program MBG menjadi urutan pertama dengan anggaran terbesar.

Di sisi lain, kualitas pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Kualitas pendidikan di Indonesia berdasarkan hasil penilaian PISA secara umum masih berada di bawah rata-rata. Hasil asesmen internasional tersebut menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi murid Indonesia masih perlu ditingkatkan. Selain itu, masih terdapat fasilitas, akses belajar, akses teknologi, serta tenaga pendidik yang kurang memadai di beberapa daerah, terutama daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Dari fenomena tersebut, timbul pertanyaan di berbagai kalangan “Apakah anggaran yang besar untuk program MBG ini sebaiknya dialokasikan untuk memperbaiki kualitas pendidikan yang masih menghadapi banyak persoalan?”

Kritikan masyarakat terhadap program MBG tidak hanya didasari pada ketidaksesuain gizi yang disalurkan kepada murid. Tetapi juga disebabkan anggaran yang sangat besar, bahkan jika dibandingkan dengan anggaran pendidikan. Permasalahannya adalah ketika anggaran MBG tidak dialokasikan dengan tepat, seperti pembelian motor listrik berjenis trail, anggaran untuk membeli kaos kaki, serta ribuan unit tablet.

Hal itu memicu tanggapan di kalangan masyarakat terkait pengalokasian anggaran MBG yang tidak memiliki korelasi dengan visi dan misi dari program MBG tersebut. Selain itu, pembangunan dapur MBG dalam waktu singkat menarik perhatian masyarakat, karena di satu sisi infrastruktur serta fasilitas sekolah di beberapa daerah masih banyak yang perlu dibenahi. Fenomena itu memperlihatkan bahwa pendidikan bukan menjadi prioritas utama dalam program pemerintah.

Oleh sebab itu, pemerintah perlu memastikan adanya keseimbangan dalam pengalokasian anggaran antara program pemenuhan gizi dan peningkatan mutu pendidikan. Transparansi penggunaan anggaran, evaluasi berkala terhadap pelakasanaan MBG, serta peningkatan fasilitas pendidikan dan kompetensi guru harus dilakukan secara berkelanjutan. Selain itu, pengawasan terhadap kualitas makanan yang disalurkan kepada peserta didik perlu diperketat agar tujuan program benar-benar tercapai. Dengan demikian, manfaat program dapat dirasakan secara maksimal tanpa mengabaikan kebutuhan mendasar dalam sektor pendidikan.

Pertanyaan mengenai mana yang lebih prioritas antara makan bergizi gratis dengan kualitas pendidikan tidak seharusnya dijawab dengan memilih salah satu. Tantangan pembangunan sumber daya manusia Indonesia membutuhkan keduanya berjalan secara beriringan. Program pemenuhan gizi perlu dilaksanakan secara efektif dan tepat sasaran, sementara upaya peningkatan kualitas pendidikan melalui kompetensi guru, penguatan literasi, serta penyediaan fasilitas yang layak tetap harus menjadi perhatian utama. Makan bergizi gratis dan pendidikan yang berkualitas dapat menjadi fondasi penting bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Generasi yang unggul tidak hanya membutuhkan tubuh yang sehat, tetapi juga pengetahuan melalui pendidikan yang berkualitas.

Penulis:

  1. Aisyah Fitri
  2. An Nisaa ‘ Mardhiyyah
  3. Anisa Khairunisa
  4. Diah Ayu Febrianan
  5. Rini Annisa
  6. Sofia Nabila

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan