JATENGKU.COM, SEMARANG – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 112 Kelompok 2 Universitas Diponegoro telah melaksanakan serangkaian kegiatan edukatif berfokus pada peningkatan kesadaran masyarakat mengenai sediaan khusus dan pentingnya posyandu pada balita serta pencegahan obesitas.
Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 19 Juli 2025 bertempat di Posyandu RW 02, Kelurahan Ngemplak Simongan, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah.
Melalui Edukasi: Masyarakat Sadar Bagaimana Tata Cara Penggunaan Sediaan Khusus dan Antibiotik Secara Rasional
Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang cara penggunaan obat yang benar menjadi langkah penting dalam menekan risiko resistensi antibiotik dan kesalahan penggunaan sediaan khusus. Hal inilah yang mendorong Diah Kusuma Wardani, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) dari Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, untuk menginisiasi kegiatan edukasi kepada warga RW 2 Kelurahan Ngemplak Simongan, Kecamatan Semarang Barat.
Kegiatan ini dilakukan bertepatan dengan agenda Posyandu yang rutin diadakan pada Sabtu, 19 Juli 2025. Dalam kesempatan tersebut, Diah memberikan penyuluhan kepada warga yang hadir, khususnya para ibu rumah tangga dan lansia, mengenai penggunaan sediaan khusus seperti obat tetes mata, salep mata, insulin dan inhaler, serta bahaya resistensi antibiotik.
Dalam sesi edukasinya, Diah menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan saat menggunakan sediaan khusus seperti obat salep mata. Ia menekankan bahwa penggunaan sediaan khusus harus mengikuti petunjuk yang tepat untuk mencegah kontaminasi dan infeksi lanjutan.
“Banyak yang masih menggunakan obat salep mata secara sembarangan, padahal itu bisa menyebabkan infeksi kalau tidak disimpan dan digunakan dengan benar,” ujar Diah.
Selain itu, ia juga mengedukasi warga tentang resistensi antibiotik—masalah serius yang terjadi saat bakteri tidak lagi mempan terhadap pengobatan antibiotik. Menurutnya, penggunaan antibiotik tanpa resep dokter dan menghentikan pengobatan sebelum waktunya merupakan faktor utama penyebab resistensi. “Jika resistensi terjadi, pengobatan infeksi menjadi lebih sulit, bahkan bisa mengancam nyawa. Maka penting untuk menggunakan antibiotik secara rasional dan sesuai resep,” tegasnya kepada warga.
Menariknya, edukasi ini tidak hanya dilakukan melalui penyampaian lisan, tetapi juga dilengkapi dengan media edukatif berupa kalender. Kalender tersebut dirancang khusus berisi panduan sederhana penggunaan sediaan khusus beserta cara penyimpanan yang benar dan pentingnya penggunaan antibiotik secara rasional dan bahaya resistensinya.
Antusiasme warga terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan dan keikutsertaan mereka dalam diskusi. Salah satu warga, Ibu Sulastri (47), mengaku baru mengetahui bahwa menyimpan sediaan seperti salep atau tetes mata tidak boleh sembarangan. “Saya jadi lebih paham sekarang. Biasanya saya simpan di mana saja, ternyata harus memperhatikan suhu penyimpanan,” katanya.
Berdasarkan hasil monitoring melalui pengisian kuesioner, secara umum responden menunjukkan tingkat pemahaman yang baik. Pada aspek penggunaan sediaan khusus, mayoritas menyatakan setuju dan sangat setuju terhadap pentingnya menjaga kebersihan, mengetahui jenis sediaan yang tersedia, serta memahami cara penyimpanan dan penggunaannya dengan tepat.
Sementara itu, pada aspek penggunaan antibiotik, sebagian besar responden menyadari pentingnya menggunakan antibiotik sesuai resep dokter, memahami risiko resistensi akibat penggunaan yang tidak tepat dosis atau aturan, serta mengerti dampak menghentikan antibiotik sebelum waktunya terhadap efektivitas pengobatan.

Melalui Edukasi: Masyarakat Paham Pentingnya Posyandu bagi Bayi dan Balita, Pedoman Gizi Seimbang sesuai dengan“Isi Piringku”, serta Gerakan Cegah Obesitas
Kegiatan edukasi juga dilakukan oleh Agus Abdul Rafi Suharnanto, mahasiswa KKN-T dari Program Studi Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro, dengan sasaran utama para orang tua yang memiliki anak balita dan masyarakat RW 02, khususnya lansia.
Rafi mengedukasi orang tua mengenai pentingnya Posyandu sebagai sarana pemantauan tumbuh kembang anak, didukung dengan poster “Ayo Datang ke Posyandu” yang menjelaskan manfaat rutin hadir ke Posyandu. Selain itu, setiap orang tua yang memiliki balita juga menerima leaflet tumbuh kembang anak berisi informasi perkembangan ideal balita, permasalahan yang sering dialami balita dan penanganannya, serta terdapat juga rekomendasi menu yang dapat diterapkan kepada balita yang telah disesuaikan dengan kebutuhan kalorinya.
Tak hanya itu, Rafi juga menyampaikan edukasi “Isi Piringku”, yaitu panduan gizi seimbang yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Edukasi ini disampaikan dengan media poster berisi ilustrasi porsi makan yang tepat sesuai dengan prinsip gizi seimbang, agar masyarakat dapat lebih mudah memahami dan menerapkannya dalam menyusun menu harian keluarga.
Pada kelompok lansia, Rafi menyampaikan edukasi terkait pencegahan obesitas melalui Gerakan Cegah Obesitas (GENTAS). Materi ini dijelaskan dengan bantuan poster GENTAS yang memuat informasi cara menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT) dan langkah-langkah pencegahan obesitas, termasuk pengaturan makan dan aktivitas fisik ringan yang cocok bagi lansia.
Dengan pendekatan visual dan materi sederhana yang mudah dipahami, kegiatan edukasi ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran gizi keluarga dan mendorong gaya hidup sehat di masyarakat.
“Melalui media poster dan leaflet, kami ingin menyampaikan informasi yang dapat dibaca kembali di rumah, agar edukasi ini berkelanjutan,” ujar Rafi.
Hasil monitoring melalui pengisian kuesioner, secara umum responden menunjukkan tingkat pemahaman yang baik. Pada aspek pentingnya posyandu pada balita, 100% masyarakat RW 02 Ngemplak Simongan sangat setuju bahwa posyandu penting untuk tumbuh kembang balita serta bersedia untuk membagikan informasi yang telah diterima kepada keluarga maupun orang lain, selain itu 80% masyarakat telah mencoba beberapa rekomendasi menu untuk balita yang ada pada leaflet tumbuh kembang anak. Selain itu 90% dari beberapa responden masyarakat RW 02 juga telah menerapkan prinsip gizi seimbang sesuai dengan Isi Piringku dan 80% responden telah membatasi asupan garam, gula, dan lemak sebagai bentuk gerakan cegah obesitas dan masalah metabolik lainnya.
Diah dan Rafi berharap kegiatan ini dapat membangun kesadaran masyarakat untuk lebih bijak dalam penggunaan obat dan lebih peduli terhadap kesehatan gizi keluarga, terutama pada anak dan lansia. Edukasi ini merupakan bagian dari kontribusi nyata mahasiswa Undip dalam meningkatkan literasi kesehatan di tingkat masyarakat, sekaligus mendorong partisipasi aktif warga dalam program Posyandu.