Inovasi Hijau KKN UPGRIS: Hidroponik di Desa Tl...

Inovasi Hijau KKN UPGRIS: Hidroponik di Desa Tlompakan Jadi Solusi Pertanian Modern di Lahan Sempit

Ukuran Teks:

Tlompakan, 5 Oktober 2025 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menghadirkan inovasi ramah lingkungan melalui program utama pembuatan sistem hidroponik sederhana di Desa Tlompakan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Program ini bertujuan untuk memperkenalkan teknik bercocok tanam tanpa tanah (hidroponik) kepada masyarakat desa, khususnya bagi mereka yang memiliki lahan terbatas namun ingin menanam sayuran segar di rumah.

Pertanian Tanpa Tanah, Solusi di Tengah Keterbatasan Lahan

Hidroponik merupakan metode menanam tanaman menggunakan air bernutrisi tanpa media tanah. Sistem ini memungkinkan warga menanam berbagai jenis sayuran seperti selada, sawi, bayam, dan kangkung di halaman rumah, teras, atau bahkan pekarangan sempit.

Dalam kegiatan sosialisasi dan praktik, mahasiswa KKN UPGRIS menjelaskan bahwa hidroponik menawarkan berbagai keunggulan, seperti pertumbuhan tanaman yang lebih cepat, hemat air hingga 90%, dan hasil panen yang lebih bersih serta bebas pestisida.

“Dengan hidroponik, siapa pun bisa panen sayur sendiri di rumah. Tidak perlu lahan luas, cukup pipa paralon, air, dan pupuk cair,” ujar salah satu mahasiswa KKN dalam sesi sosialisasi.

Rancangan Sistem Hidroponik Karya Mahasiswa KKN

Inovasi Hijau KKN UPGRIS: Hidroponik di Desa Tlompakan Jadi Solusi Pertanian Modern di Lahan Sempit

Sistem hidroponik yang dibuat oleh mahasiswa KKN UPGRIS menggunakan rangka alumunium dan pipa paralon bertingkat (sistem NFT sederhana) dengan aliran air yang dipompa secara sirkulatif. Nutrisi cair disimpan di wadah bawah, kemudian dialirkan ke setiap pipa tempat tanaman tumbuh.

Struktur ini juga dilengkapi atap plastik bening untuk melindungi tanaman dari hujan langsung tanpa menghalangi sinar matahari. Di sekelilingnya, pot tanaman hias dari botol bekas berwarna-warni menambah keindahan dan nilai estetika area tanam.

“Kami ingin menghadirkan sistem hidroponik yang tidak hanya fungsional, tapi juga menarik secara visual. Desain ini bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk mengembangkan taman produktif di rumah,” tambah perwakilan tim KKN.

Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat

Selain membangun instalasi hidroponik, mahasiswa KKN UPGRIS juga mengadakan sosialisasi dan pelatihan praktik kepada warga Desa Tlompakan. Dalam pelatihan tersebut, masyarakat diajak mempelajari langkah-langkah dasar, mulai dari menyiapkan larutan nutrisi, menanam bibit, merawat tanaman, hingga memanen hasilnya.

Kegiatan dilakukan secara interaktif dengan demo langsung dan sesi tanya jawab. Warga tampak antusias mengikuti setiap tahap, terutama ibu-ibu rumah tangga dan kelompok tani muda yang tertarik mengembangkan usaha sayuran hidroponik.

Peluang Usaha dan Dampak Positif bagi Desa

Melalui sistem hidroponik ini, warga didorong tidak hanya untuk menanam sayur untuk konsumsi pribadi, tetapi juga menjadikannya peluang usaha kecil. Sayuran segar hasil hidroponik dapat dijual ke tetangga, warung, atau pasar lokal, bahkan dikembangkan sebagai produk sayur kemasan harian.

“Kami berharap hidroponik ini bisa menjadi awal bagi warga untuk berwirausaha mandiri dan menjaga ketahanan pangan keluarga,” ungkap salah satu dosen pembimbing lapangan KKN UPGRIS.

Langkah Kecil untuk Pertanian Berkelanjutan

Program hidroponik di Desa Tlompakan ini menjadi contoh nyata kolaborasi antara inovasi teknologi pertanian dan pemberdayaan masyarakat. Dengan biaya terjangkau dan bahan lokal, sistem ini dapat dibuat ulang secara mandiri oleh warga.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN UPGRIS tidak hanya meninggalkan hasil fisik berupa instalasi hidroponik, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

 

Dengan semangat hijau dan gotong royong, Desa Tlompakan kini memiliki wajah baru: desa produktif yang mengedepankan pertanian modern dan ramah lingkungan.

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan