JATENGKU.COM, Magelang — Mahasiswa yang tergabung dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) melaksanakan kegiatan budidaya lele dalam galon yang dipadukan dengan sistem akuaponik di Desa Jamuskauman, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, pada Minggu (8/2/2026). Program ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan pangan masyarakat sekaligus memanfaatkan limbah plastik menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya limbah plastik rumah tangga, khususnya galon bekas, serta kebutuhan masyarakat akan sumber pangan yang mudah diakses. Melalui program ini, mahasiswa menghadirkan solusi sederhana dengan menggabungkan budidaya ikan lele dan penanaman sayuran dalam satu sistem akuaponik.
Dalam sistem ini, kotoran ikan dan sisa pakan akan menghasilkan amonia di dalam air. Jika dibiarkan, zat ini dapat berbahaya bagi ikan. Namun, melalui proses Nitrifikasi, amonia tersebut akan diubah menjadi nitrat yang justru bermanfaat sebagai pupuk alami bagi tanaman. Dengan demikian, tanaman yang ditanam di bagian atas galon berfungsi sebagai penyerap zat tersebut sekaligus memanfaatkan nutrisi dari air untuk tumbuh.
Dalam pelaksanaannya, masyarakat diberikan sosialisasi sekaligus praktik langsung. Warga diajarkan cara menyiapkan galon sebagai media budidaya, proses pengendapan air, penebaran benih lele, hingga pemasangan sistem akuaponik sederhana. Selain itu, masyarakat juga dikenalkan dengan cara menjaga kualitas air agar ikan dan tanaman dapat tumbuh dengan optimal.
Mahendra, salah satu mahasiswa KKN, menjelaskan bahwa sistem ini sangat cocok diterapkan di rumah tangga. “Melalui metode ini, masyarakat tidak hanya bisa membudidayakan ikan, tetapi juga menanam sayur dalam satu media. Jadi manfaatnya bisa dirasakan langsung untuk kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Tanaman yang digunakan dalam sistem ini umumnya merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan cepat panen, seperti kangkung, sawi, selada, bayam, dan pakcoy. Tanaman-tanaman ini membantu menjaga kualitas air tetap baik sekaligus memberikan tambahan hasil pangan bagi masyarakat.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari masyarakat. Warga terlihat antusias mengikuti setiap tahapan yang diberikan karena metode yang digunakan cukup sederhana dan tidak membutuhkan lahan luas.
Melalui program ini, masyarakat mulai memahami bahwa limbah plastik seperti galon bekas masih memiliki nilai guna jika dimanfaatkan dengan tepat. Selain itu, kombinasi budidaya lele dan akuaponik juga memberikan alternatif pemenuhan pangan berupa protein hewani dan sayuran dalam satu sistem yang sederhana.
Program ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan oleh United Nations, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan serta pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar, masyarakat dapat mulai membangun kemandirian pangan dari lingkungan rumah sendiri.
Ke depan, mahasiswa KKN berharap kegiatan ini dapat terus dilanjutkan hingga masa panen dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat. Dengan cara yang sederhana namun inovatif, budidaya lele dalam galon yang dipadukan dengan akuaponik diharapkan mampu menjadi solusi kecil yang memberikan dampak besar bagi ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan.






