JATENGKU.COM, KENDAL — Mahasiswa Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Walisongo Posko 23 melaksanakan kegiatan Sosialisasi Antibullying di SDN Leban. Kegiatan yang diikuti oleh siswa kelas IV, V, dan VI ini bertujuan menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya menghargai perbedaan serta berani menolak segala bentuk perundungan di lingkungan sekolah.
Pemateri Revi Mariska membuka kegiatan dengan memberikan contoh perilaku yang berkaitan dengan tindakan bullying. Melalui pembuka tersebut, para siswa diajak mengenali berbagai bentuk perundungan, mulai dari kekerasan fisik hingga perilaku yang sering dianggap remeh seperti ejekan, pengucilan, dan sindiran.
“Bullying bukan hanya soal memukul atau mendorong teman. Saat kita menertawakan teman karena penampilannya atau tidak mau bermain dengannya, itu juga termasuk bullying,” jelas Revi di hadapan para siswa.
Penjelasan itu membuat suasana kelas mendadak hening. Banyak siswa mulai menyadari bahwa bullying bisa terjadi tanpa mereka sadari. Untuk memperdalam pemahaman, Revi kemudian membagikan kertas warna-warni kepada setiap siswa. Mereka diminta menuliskan pengalaman pribadi terkait bullying — baik sebagai korban, saksi, maupun pelaku yang menyesal.
Setelah menulis, para siswa menempelkan kertas tersebut pada “Pohon Ungkapan”, karya simbolik buatan mahasiswa KKN yang dijadikan media refleksi bersama. Setiap lembar kertas menggambarkan perasaan, keberanian, serta harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Kegiatan dilanjutkan dengan sesi refleksi bersama. Dalam suasana tenang, siswa diminta menutup mata sementara Revi membacakan kalimat-kalimat kesadaran tentang dampak negatif bullying. Beberapa siswa tampak meneteskan air mata karena merasa tersentuh oleh pengalaman yang mereka alami sendiri ataupun oleh teman-temannya.
Setelah sesi refleksi, Revi memberikan kesempatan kepada beberapa siswa untuk berbagi pengalaman secara langsung di depan kelas. Cerita-cerita yang muncul menambah pemahaman bersama bahwa perundungan, sekecil apa pun bentuknya, bisa menyakiti orang lain.
Untuk mengembalikan suasana menjadi lebih ceria, mahasiswa KKN mengadakan sesi permainan singkat yang mengajarkan nilai kerja sama dan saling menghargai. Gelak tawa kembali terdengar, menandai bahwa pesan kegiatan tidak hanya sampai di kepala, tetapi juga menyentuh hati para siswa.
Sebagai penutup, seluruh peserta mengikuti “Tepuk Antibullying”, yel-yel penuh semangat yang dipimpin mahasiswa KKN. Sambil bertepuk tangan serempak, para siswa berseru lantang, “Stop bullying! Ayo berteman baik!” Suara riuh mereka memenuhi ruangan, menandai berakhirnya kegiatan yang edukatif sekaligus menginspirasi.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan bahwa setiap anak punya hak untuk merasa aman dan diterima di sekolah. Bullying, sekecil apa pun bentuknya, bisa meninggalkan luka yang dalam. Karena itu, berhenti membully berarti mulai peduli,” tutur Revi Mariska, pemateri dari Divisi PSDM KKN UIN Walisongo.
Mahasiswa Divisi PSDM KKN UIN Walisongo Posko 23 berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam menciptakan lingkungan sekolah dasar yang ramah, aman, dan bebas dari perundungan. Dengan kesadaran sejak dini, para siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang saling menghormati, berempati, dan berani menolak segala bentuk kekerasan, sekecil apa pun bentuknya.