JATENGKU.COM, Jakarta — Buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma berisi kumpulan beberapa cerita pendek ada juga naskah drama yang dilatarbelakangi masa penjajahan Jepang. Saat masa penjajahan banyak hal yang berdampak, salah satu dampak yang terlihat adalah kehidupan rakyat yang menjadi korban.
Seperti salah satu cerita pendek yang berjudul Kisah Sebuah Celana Pendek dalam buku ini mengisahkan dan menggambarkan kehidupan rakyat yang tidak mengerti apa yang terjadi pada negaranya, mereka tidak mengetahui politik yang terjadi, sehingga yang mereka tahu hanya bertahan hidup di tengah peperangan.
Kusno digambarkan seorang rakyat yang tidak mengetahui politik, hidupnya sederhana, namun tetap diajarkan nilai moral oleh ayahnya. Ayah Kusno bekerja sebagai seorang opas. Kusno dibelikan celana kepar 1001 pada usia 14 tahun. Pak Kusno buta politik, ia tidak tahu betapa besarnya arti penyerangan itu yang diketahuinya hanya anaknya sudah tidak memiliki celana yang layak dipakai.
Kusno memakai celana itu ketika mencari pekerjaan dengan harapan yang besar, awalnya Kusno ingin jadi juru tulis, menurunkannya jadi portir, dan dari portir menjadi opas. Bagi Kusno kemakmurannya itu celana kepar 1001 tersebut. Ia menyambut tentara Jepang dengan peluk cium dan salaman tangan karena ketidaktahuan apa arti demokrasi dan kemakmuran.
Kusno mengharapkan celana baru selama tiga setengah tahun. Namun, keinginannya tidak terbayangkan, sama halnya dengan harapan rakyat kecil akan kemerdekaan hidupnya yang mengharapkan kebebasan dari peperangan tersebut. Akhirnya, Kusno memilih berhenti bekerja dari pekerjaannya itu ketika ia dibentak sepnya yang mengakibatkan hilang semangatnya, dan memilih hidup sederhana. Ia percaya bahwa setelah gelap akan terang, percaya kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Pemurah.
Suatu hari, ia sakit kepala dan ingin menjual celana itu, namun dia berpikir kalau ia menjual celana itu hanya kenyang beberapa saat saja, lalu dengan apa dia menutupi auratnya. Ia sempat memiliki pikiran untuk mencuri, tapi tidak terlaksana karena takut kepada Tuhan. Hidupnya berjalan sengsara dan hidup dengan daun-daun kayu, ia hidup terus meskipun sengsara, tapi hidup dengan bahagia.
Dengan demikian, sama halnya bagi rakyat kecil saat itu, yang awalnya percaya bahwa penjajah datang akan membawa kebebasan, tapi ternyata tidak. Dari harapan dan rasa ingin merdeka itulah rakyat melawan tidak secara langsung dengan senjata, tapi dengan cara tetap bertahan hidup di tengah peperangan itu untuk hidup yang bahagia meskipun hidup dalam keadaan sengsara, bahkan untuk makan saja tidak ada. Kusno belum paham mengapa selalu masih ada peperangan dan ia merasa yang dikorbankan, begitu pula dengan rakyat kecil yang tidak tahu mengenai politik, tetapi harus menjadi pihak yang dirugikan dari peperangan tersebut.
Hal ini membuktikan penjajahan bukan hanya fisik, tetapi juga mental dan kebiasaan hidup rakyat kecil dalam menjalani kehidupan tanpa menyadari mereka sedang ditindak, karena pengaruh sistem kolonial yang sudah dianggap normal. Mereka menganggap kondisi sulit sebagai hal yang wajar karena tidak adanya pendidikan atau kesadaran politik. Cerpen Kisah Sebuah Celana Pendek dalam buku Dari Ave Maria Ke Jalan Lain ke Roma di kehidupan masa sekarang masih relevan karena memperlihatkan bagaimana kelompok masyarakat kecil dapat menjadi pihak yang paling rentan ketika tidak memiliki pemahaman yang cukup terhadap sistem sosial yang lebih luas. Kurangnya literasi informasi dan pendidikan membuat cenderung menerima keadaan tanpa berpikir kritis.