JATENGKU.COM, BATANG — Mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) yang tergabung dalam Tim KKN-T 50 melaksanakan program kerja dengan mengusung tema “Pengembangan UMKM Lokal sebagai Pilar Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasis Potensi Dukuh.” Salah satu kegiatan dalam program ini dijalankan oleh Shafa Tasya Az Zahra, mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian.
Melalui skema program multidisiplin 2, Shafa melaksanakan pendampingan kepada pelaku UMKM pangan olahan. Kegiatan ini dilaksanakan di Dukuh Rembul, Desa Tumbrep, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung pengembangan ekonomi desa.
Salah satu UMKM yang menjadi sasaran pendampingan adalah milik Bu Nanik, seorang produsen rumahan yang sejak Bulan Agustus tahun 2024 memproduksi beragam pangan olahan seperti keripik pisang, keripik bayam, rempeyek kacang tanah, kue kering, dan ogak jahe. Produknya cukup dikenal di lingkungan sekitar dan banyak dipesan saat acara keluarga, hari raya, maupun untuk dijual kembali. Bahkan, beliau telah menjadi salah satu pemasok bagi toko oleh-oleh khas Pekalongan.
Namun, kendala yang dihadapi selama ini adalah kemasan yang masih sangat sederhana—hanya plastik polos tanpa label, merek, atau informasi produk. Hal ini tentu membatasi ruang gerak UMKM untuk menembus ke pasar yang lebih luas dan profesional.
“Selama ini ya cuma dikemas biasa saja, belum pernah bikin informasi kemasan seperti itu.” ungkap Bu Nanik saat ditemui di rumah produksinya.
Sebagai respons terhadap permasalahan kemasan yang kurang informatif dan belum sesuai standar, Shafa merancang sebuah program desain kemasan dan label yang berlandaskan pada Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2021 sebagai perubahan dari Peraturan Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.
Inisiasi ini tidak hanya berfokus pada aspek visual, tetapi juga memastikan bahwa setiap unsur informasi penting dalam label tercantum secara lengkap, mulai dari nama produk, daftar bahan yang digunakan, berat bersih, nama dan alamat produsen, logo halal (jika diperlukan), tanggal dan kode produksi, tanggal kedaluwarsa, hingga format nomor izin edar.
Dari berbagai jenis produk yang dihasilkan oleh Bu Nanik, Shafa memprioritaskan pendampingan pada dua produk unggulan, yakni keripik pisang dan rempeyek kacang tanah, dengan merancang label sesuai standar yang berlaku.
Proses perancangan label dilakukan menggunakan perangkat lunak desain sederhana, namun tetap mengedepankan aspek estetika dan keterbacaan. Desain yang dihasilkan memadukan unsur lokal dengan sentuhan modern, menggunakan warna-warna yang lembut, simbol yang mudah dipahami, serta tata letak informasi yang rapi dan komunikatif.

Dalam proses ini, Shafa berkolaborasi dengan rekan satu timnya, Salma Qathrunnada, yang juga terlibat dalam pendampingan UMKM melalui program multidisiplin 2. Shafa berfokus pada kelengkapan informasi label sesuai ketentuan BPOM dan Salma lebih menitikberatkan pada aspek estetika visual dan kesesuaian desain dengan karakter produk.
Tak hanya pada desain label, Shafa dan rekannya juga memberikan masukan terkait pemilihan jenis kemasan. Shafa dan rekannya merekomendasikan penggunaan kemasan aluminium foil dengan bagian depan transparan, guna menjaga tekstur kerenyahan produk dengan tetap menampilkan isi di dalamnya. Pendekatan ini dinilai mampu menjaga kualitas produk sekaligus meningkatkan daya tarik visual di mata konsumen.
“Saya baru tahu ternyata ada banyak hal yang harus dicantumkan di label. Alhamdulillah sekarang jadi lebih ngerti dan punya contoh desainnya,” Ujar Bu Nanik setelah pertama kali melihat label produknya yang telah jadi.
Program ini dijalankan pada 17 Juli 2025, dan menjadi bukti nyata bagaimana peran mahasiswa di lapangan dapat memberi dampak langsung terhadap salah satu pelaku UMKM desa.
Melalui sentuhan teknologi dan kolaborasi dengan mahasiswa, potensi lokal desa dapat dioptimalkan secara berkelanjutan dan berdaya saing.
Ke depannya, diharapkan semakin banyak produk rumahan yang berkembang secara berkelanjutan dengan memenuhi standar mutu dan regulasi, serta siap bersaing di pasar modern tanpa meninggalkan identitas lokalnya.
Penulis: Shafa Tasya Az Zahra, Mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro