JATENGKU.COM, Jakarta — Pertanian merupakan sektor yang tidak dapat digantikan oleh sektor lainnya. Pertanian menjadi tonggak utama kehidupan, karena pertanian merupakan penyedia kebutuhan pangan. Ketahan pangan di Indonesia saat ini menjadi tantangan yang cukup besar karena selain pada aktivitas alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian seperti menjadi pemukiman, perindustrian, dan lokasi parawisata.
Data BPS pada tahun 2025 menyatakan bahwa indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan jumlah penduduk sekitar 1,9%, maka kebutuhan pangan di Indonesia juga harus meningkat. Namun, keterbatasan sumber daya manusia pada lahan pertanian menjadi tantangan pada saat ini. Jumlah petani khususnya di Indonesia sangat memprihatinkan, dimana dalam data rata-rata usia petani saat ini adalah 45-55 tahun yang tercatat pada tahun 2023.
Pada survei pertanian 2018 tercatat bahwa petani dengan usia 25 tahun atau kurang hanya 0,9%. Hal ini sangat menguatkan bahwa di Indonesia memiliki kerentanan terhadap regenerasi petani. Lalu dari banyaknya mahasiwa pertanian di Indonesia, dimana peran mereka untuk mengolah sektor pertanian? Jika regenerasi petani di Indonesia terus mengalami penurunan maka hal yang akan berpengaruh adalah pada ketahanan pangan.
Gelar akademis merupakan gelar yang didapatkan oleh seseorang setelah mereka menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Gelar ini menjadi bukti kompetensi bahwa seseorang tersebut memiliki keilmuan mendalam pada bidang tersebut. Bukti kompetensi ini harusnya dapat dijadikan sebagai acuan dalam mengembangkan bidang tersebut. Para gelar akademis pertanian jarang sekali mau turun langsung ke lahan.
Banyak dari mereka yang memilih untuk bekerja diluar sektor pertanian karena pertanian merupakan pekerjaan yang identik dengan pekerjaan fisik dengan penghasilan yang tidak stabil dan relatif kecil. Pertanian sangat bergantung pada perubahan kondisi perubahan cuaca yang sekarang sangat tidak menentu, oleh karena itu, pertanian sangat menjadi hal yang dipertimbangkan oleh generasi muda saat ini. Sebab, pertanian jika menghasilkan keuntungan melimpah dan juga risiko kerugian yang ditanggung akan sangat besar.
Kebanyakan dari masyarakat yang mengelola pertanian padi adalah lulusan dari pendidikan tingkat sekolah dasar. Pada survei oleh Pertanian Antar Sensus pada tahun 2018 menyatakan bahwa 11,6% merupakan petani dengan rata rata usia kurangd ari 35 tahun, dan pada petani dengan usia di atas 45 tahun sebanyak 64,2%. Pertanian masih menjadi tonggak utama kehidupan namun proses dalam produksi nya sangat membosankan dan membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan uang.
Anak anak petani saja beranggapan bahwa kegiatan pratanam, penanaman dan proses memelihara tanaman adalah kegiatan yang kurang menarik, karena dibutuhkan kesabaran dan ketelitian dengan hasil panen yang belum pasti. Hasil panen yang belum pasti ini sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor alam yang tidak dapat diperkirakan. Namun pencegahan menjadi salah satu strategi untuk meminimalisir kegagalan dari panen ini. Maka diperlukan orang-orang yang memiliki kompetensi dalam bidang pertanian untuk mendukung ketahanan pangan di Indonesia.
Orang-orang yang berkompetensi ini tak lain tak bukan merupakan para lulusan pertanian yang sudah memiliki pengetahuan teoritis mengenai pertanian untuk menjamin maupun meminimalisir kegagalan panen. Pada saat ini masih banyak lulusan pertanian yang belum mau turun langsung ke lahan untuk mengembangkan pertanian di Indonesia. Sehingga pada masa ini petani masih didominasi oleh kelompok usia tua yang sangat rentan.
Rendahnya minat generasi muda dalam sektor pertanian terdapat beberapa faktor yakni stigma bahwa pertanian selain pada penghasilan yang sedikit dan kurang stabil juga terdapat pada generasi muda yang hidup di era yang serba cepat pada segi perkembangan teknologi. pada data yang tercatat sistem pertanian khususnya padi menghasilkan keuntungan jauh di bawah sektor ekonomi lain sekitar 1:15-622 apabila lahan usaha tani padi digunakan untuk sektor ekonomi lainnya.
Menjadi bagian dari pertanian memang suatu hal yang tidak mudah, akan selalu banyak rintangan yang dilalui. Pertanian adalah sektor yang berdiri dari awal kehidupan manusia setelah manusia memutuskan untuk berpindah dari kehidupan nomaden menjadi menetap. Sejak saat itu manusia mulai belajar dan terus berkembang untuk terus mencukupi kehidupannya.
Pada zaman modern saat ini pertanian sudah menyentuh pada 5.0 dimana pertanian dunia sudah bergerak dan mengintegrasikan antara pertanian dengan AI dan internet sehingga kegagalan panen dapat teratasi. Namun masih banyak tantangan yang dihadapi di Indonesia dalam mendukung ketahanan pangan. Pada dasarnya Indonesia adalah negara agraris, sejarah pun menyebutkan bahwa salah satu alasan Indonesia dijajah adalah karena pada hasil tani yang melimpah.
Namun, saat ini indonesia berada pada di titik tidak memiliki ketahanan pangan yang cukup untuk memberi makan masyarakat pada negara ini. Solusi impor beras menjadi jalan pintas yang dipilih untuk memenuhi kebutuhan beras di Indonesia, namun semakin lama harga impor juga pasti akan naik. Kebutuhan makanan di negara pengekspor juga akan naik dikhawaitrkan akan menjadi jebakan ketika negara tersebut sudah tidak mau mengekspor beras ke negara ini, lantas akan makan apa negara ini kedepannya?
Memberikan jaminan hasil pada pertanian menjadi langkah strategis untuk mendukung para petani agar termotivasi untuk terus bertani. Menjamin kemajuan teknologi pertanian dapat meningkatkan minat pada generasi muda untuk bertani. memberikan kesempatan yang layak bagi petani seperti lahan, alsintan (Alat dan Mesin Pertanian) dan saprodi (sarana produksi pertanian), dapat Memberikan dampak nyata bagi para petani yang penghasilannya masih dapat dikatakan tidak stabil. Memberikan kepastian untuk para lulusan pertanian dalam menggarap lahan dan mengembangkan seluruh aspek dapat memberikan motivasi pada setiap kegiatan pertanian.
Menuntut para sarjana pertanian untuk ‘turun ke lahan’ tanpa adanya jaminan akses atau kepemilikan lahan adalah sebuah ilusi. Mayoritas lulusan pertanian bukan berasal dari keluarga tuan tanah. Di tengah masifnya alih fungsi lahan dan ketimpangan struktur agraria, para sarjana ini tidak memiliki modal kapital untuk membeli atau menyewa lahan yang layak demi menerapkan ilmu akademis mereka.