JATENGKU.COM, Boyolali — Desa Senden yang terletak megah di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, dikenal luas sebagai salah satu wilayah agraris penghasil komoditas tembakau (Nicotiana tabacum L.) musiman yang sangat melimpah. Bagi masyarakat setempat, bertani tembakau bukan sekadar mata pencaharian, melainkan warisan turun-temurun yang mengalir dalam nadi kehidupan desa. Namun, di balik hamparan hijau daun emas tersebut, tersimpan sebuah paradoks lingkungan yang kerap luput dari perhatian: penumpukan limbah batang tembakau pasca-panen.
Selama bertahun-tahun, batang tembakau dianggap sebagai sisa produksi yang tidak bernilai. Petani biasanya mengambil jalan pintas dengan membiarkannya membusuk liar di pinggir lahan atau langsung membakarnya secara konvensional. Tindakan membakar limbah ini memicu masalah baru berupa pencemaran udara, peningkatan emisi gas rumah kaca, dan degradasi kualitas hara tanah. Berangkat dari kegelisahan akademis dan dorongan nyata untuk membangun desa, tim mahasiswa S-1 Teknik Kimia Universitas Sebelas Maret (UNS) yang dipimpin oleh Muhammad Yazid Ar-Rasyid hadir membawa solusi inovatif berbasis sains ramah lingkungan.
Sinergi Hibah JARPAK MBKM Membangun Desa untuk Transformasi Limbah Menjadi Berkah
Melalui Program Hibah Pembelajaran Merdeka Kampus Merdeka (MBKM) skema ‘Membangun Desa’, tim pengusul yang beranggotakan 10 mahasiswa kreatif Teknik Kimia UNS di bawah bimbingan dosen pakar Dr. Ir. Joko Waluyo, S.T., M.T., merancang sebuah gerakan komprehensif berjudul:
“Pemberdayaan Masyarakat Desa Senden Melalui Peningkatan Nilai Tambah Limbah Batang Tembakau Sebagai Pupuk Kompos Ramah Lingkungan Menggunakan Teknologi EM4”.
Program strategis berdurasi 4 bulan ini dirancang secara sistematis dengan menyelaraskan ilmu teknik kimia yang aplikatif dengan kearifan lokal. Fokus utamanya bukan sekadar membuang limbah, melainkan menerapkan prinsip ekonomi sirkular (circular bioeconomy)—di mana sisa organik dikonversi secara maksimal hingga memiliki nilai tambah agronomis dan ekonomis yang tinggi bagi masyarakat desa.
Rahasia Teknologi Pengomposan Berbasis EM4
Batang tembakau sejatinya kaya akan kandungan senyawa organik esensial seperti selulosa dan lignin. Melalui pemanfaatan bio-aktivator Effective Microorganisms 4 (EM4) pertanian yang dikombinasikan dengan molase/larutan gula sebagai sumber energi starter mikroorganisme, proses degradasi makromolekul organik dapat dipersingkat secara signifikan dari berbulan-bulan menjadi hanya 3 hingga 4 minggu.

Tahapan Presisi Pembuatan Kompos:
1. Tahap Pencacahan (Size Reduction): Batang tembakau yang terkumpul dicacah halus hingga ukuran 2-5 cm untuk memperbesar luas permukaan kontak mekanis dengan mikroba pengurai.
2. Formulasi Rasio Struktural: Serpihan batang tembakau dicampur dengan jerami atau sekam padi dan limbah sayur menggunakan perbandingan terukur. Rasio sangat krusial untuk menjaga keseimbangan rasio Karbon terhadap Nitrogen (C/N ratio) serta mengoptimalkan porositas sirkulasi udara (aerasi) tumpukan.
3. Inokulasi Bio-aktivator: Bahan disiram larutan gula (40 ml/kg bahan) dan larutan EM4 (30 ml/kg bahan) secara merata, kemudian difermentasikan di dalam wadah tertutup rapat (bak/drum terkontrol).
4. Manajemen Pembalikan (Aerasi Kontrol): Dilakukan pembalikan tumpukan kompos secara berkala setiap 7 hari sekali untuk menyuplai oksigen, mengontrol suhu internal akibat aktivitas biologis eksotermik, dan mencegah kondisi anaerob yang memicu bau tidak sedap.
Hasil akhir dari proses ini adalah pupuk kompos organik yang remah, tidak berbau menyengat, kaya akan unsur hara makro alami, rasio C/N Optimal ,dan memiliki pH seimbang yang sangat ideal untuk merevitalisasi kegemburan serta kapasitas menahan air pada tanah pertanian di Desa Senden.
Catatan : Untuk membuat 1 Kg pupuk kompos dibutuhkan Limbah Batang Tembakau 300 gram, Sekam Padi 100 gram, Limbah Sayur 600 gram, EM4 30 Ml, Gula Merah 40 gram, dan Air 500 mL
Mendorong Kemandirian Ekonomi Melalui Edukasi dan Literasi Digital
Pemberdayaan yang sukses adalah pemberdayaan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, Tim Hibah Jarpak MBKM Teknik Kimia UNS tidak berhenti pada tahapan produksi skala Lab dan lapangan saja. Rangkaian program dihilirisasi melalui sosialisasi utama:
1. Sosialisasi Pengenalan Program & Mutu Produk: Memberikan pemahaman mendalam kepada kelompok tani mengenai bahaya pembakaran limbah dan manfaat jangka panjang pupuk organik bagi kelestarian ekosistem tanah.
2. Sosialisasi Peluang Usaha (Technopreneurship): Membuka wawasan masyarakat mengenai potensi komersialisasi kompos, manajemen penentuan harga pokok produksi (HPP), teknik pengemasan (packaging) yang menarik, hingga analisis kelayakan usaha.
Kontribusi Nyata Terhadap Sustainable Development Goals (SDGs)
Program inovatif yang digawangi oleh mahasiswa UNS ini secara eksplisit berkontribusi nyata pada pencapaian 3 pilar Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya:
• SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan) & SDGs 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi): Membantu menekan biaya operasional pembelian pupuk kimia sintesis dan membuka keran pendapatan baru dari penjualan produk kompos komersial.
• SDGs 4 (Pendidikan Berkualitas): Menjadi wadah edukasi nonformal bagi petani lokal dalam mengadopsi teknologi pertanian organik modern.
• SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab): Mengubah limbah berbahaya menjadi input produksi pertanian yang bernilai guna tinggi secara efisien.
Eksklusif Catatan & Testimoni Ketua Pelaksana

“Menyelesaikan permasalahan di masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan teori-teori di atas kertas atau di dalam laboratorium saja. Melalui program MBKM Membangun Desa Senden ini, kami di Teknik Kimia UNS ditantang untuk merealisasikan ilmu termokimia, teknik produk, hingga manajemen proyek langsung di lapangan yang dinamis.
Alhamdulillah, hasil dari pemberdayaan ini melampaui ekspektasi kami. Petani di Desa Senden yang awalnya skeptis kini mulai menyadari bahwa batang tembakau yang selama ini mereka bakar dan dianggap sampah kotor ternyata bisa disulap menjadi ’emas hijau’ pupuk kompos organik bermutu tinggi yang mampu menyuburkan kembali tanah mereka sendiri sekaligus memotong pengeluaran biaya pupuk kimia yang kian mahal.
Dukungan penuh dari Dr. Ir. Joko Waluyo selaku pembimbing dan antusiasme luar biasa dari para perangkat desa serta kelompok tani Senden menjadi energi utama bagi 10 anggota tim kami dalam menyukseskan program ini selama 4 bulan. Kami berharap dengan diserahkannya Buku Panduan Resmi Pembuatan Kompos dari kami, program pengolahan limbah ini tidak akan berhenti saat masa KKN/MBKM kami usai, melainkan terus tumbuh menjadi unit usaha mandiri desa yang sirkular dan berkelanjutan.”
— Muhammad Yazid Ar-Rasyid (Ketua Tim Pengusul, S-1 Teknik Kimia Universitas Sebelas Maret 2023)
Untuk memberikan gambaran profesional mengenai akuntabilitas jalannya program, berikut rincian profil tim pelaksana dalam kegiatan ini:
Profil Ringkas Tim Mahasiswa Pengusul
| Muhammad Yazid Ar-Rasyid (I0523076) | S-1 Teknik Kimia – Fakultas Teknik |
| Ali Hanif (I0523012) | S-1 Teknik Kimia – Fakultas Teknik |
| Calista Putri Aziza (I0523030) | S-1 Teknik Kimia – Fakultas Teknik |
| Muhammad Afrizal (I0523069) | S-1 Teknik Kimia – Fakultas Teknik |
| Naila Rasya Faiza (I0523082) | S-1 Teknik Kimia – Fakultas Teknik |
| Partawiria Jaya Pratama (I0523091) | S-1 Teknik Kimia – Fakultas Teknik |
| Pratiwi Dwi Wahyuningsih (I0523095) | S-1 Teknik Kimia – Fakultas Teknik |
| Raditya Danu Bawono (I0523097) | S-1 Teknik Kimia – Fakultas Teknik |
| Safira Annur Islami (I0523106) | S-1 Teknik Kimia – Fakultas Teknik |
| Syahira Faiqrani Annur Setiawan (I0523118) | S-1 Teknik Kimia – Fakultas Teknik |