Maryam dan Luka Intoleransi yang Masih Menganga...

Maryam dan Luka Intoleransi yang Masih Menganga di Indonesia

Ukuran Teks:

JATENGKU.COM, Jakarta — Indonesia dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi keberagaman. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat berbagai bentuk intoleransi yang menyisakan luka bagi kelompok-kelompok minoritas. Salah satu gambaran nyata mengenai persoalan tersebut dapat ditemukan dalam novel Maryam karya Okky Madasari. Melalui kisah seorang perempuan Ahmadiyah bernama Maryam, novel ini menghadirkan Gambaran diskriminasi, pengucilan, hingga kekerasan yang dialami kelompok minoritas agama di Indonesia.

Tema utama novel ini adalah diskriminasi dan intimidasi terhadap komunitas Ahmadiyah. Okky Madasari menggambarkan bagaimana kehidupan yang awalnya berjalan damai dapat berubah menjadi penuh ketakutan akibat munculnya prasangka dan kebencian. Dalam novel disebutkan:

“Zulkhair juga masih heran, apa yang membuat mereka terusir hampir bersamaan. Dimulai di satu desa, lalu menular ke desa-desa lain. Tetangga yang dulu selalu rukun walau sama-sama tahu ada Ahmadi di kampung mereka, tiba- tiba berubah beringas.” (Maryam, 2012: 69)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa intoleransi sering kali tidak lahir dari perbedaan itu sendiri, melainkan dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap kelompok yang berbeda. Hubungan sosial yang sebelumnya harmonis dapat berubah menjadi konflik ketika prasangka dan sentimen kelompok lebih dominan daripada nilai kemanusiaan.

Lebih jauh, novel Maryam memperlihatkan bahwa diskriminasi terhadap Ahmadiyah bukan hanya terjadi pada level individu, tetapi juga secara struktural. Maryam dan keluarganya harus hidup dalam bayang-bayang ketakutan hanya karena identitas keagamaan mereka. Bahkan sejak kecil, Maryam telah merasakan tekanan tersebut. “Sejak belia Maryam telah memelihara ketakutan” (Maryam, 2012: 20) akibat pengalaman diskriminasi yang terus membentuk kehidupannya.

Konflik yang dialami Maryam mencapai puncaknya ketika komunitas Ahmadiyah menjadi sasaran serangan massa. Adegan penyerangan dalam novel digambarkan dengan sangat emosional:

“Batu-batu dilempar begitu saja. Ada beberapa orang yang kena. Berteriak kesakitan. Beberapa berdarah.” (Maryam, 2012: 225)

Kekerasan tersebut tidak hanya merusak bangunan fisik, tetapi juga menghancurkan rasa aman dan martabat manusia. Bahkan dalam novel muncul seruan yang sangat mengkhawatirkan:

“Usir orang Ahmadiyah dari Gegerung. Kalau masyarakat di sini tidak mampu mengusir, saya akan mendatangkan masyarakat dari tempat lain untuk mengusir mereka. Darah Ahmadiyah itu halal!” (Maryam, 2012: 223)

Ucapan tersebut memperlihatkan bagaimana intoleransi dapat berkembang menjadi legitimasi kekerasan. Ketika suatu kelompok dianggap tidak layak hidup berdampingan dengan kelompok lain, maka kemanusiaan perlahan-lahan dikalahkan oleh fanatisme. Penyerangan rumah, pengusiran warga, hingga pengungsian yang dialami tokoh-tokohnya merupakan representasi dari tragedi yang benar-benar terjadi di masyarakat. Dengan demikian, novel ini tidak hanya menjadi karya sastra, tetapi juga menjadi dokumen sosial yang merekam luka kemanusiaan akibat intoleransi.

Selain mengkritik masyarakat, Okky Madasari juga menyoroti lemahnya perlindungan negara terhadap kelompok minoritas. Dalam cerita, korban justru harus meninggalkan rumah mereka demi alasan keamanan. Aparat meminta mereka untuk mengungsi sementara, sementara pelaku kekerasan tetap berada di tempat yang sama. Kondisi ini memperlihatkan bahwa korban sering kali dipaksa menanggung konsekuensi atas tindakan yang tidak mereka lakukan.

Melalui tokoh Maryam, pembaca diajak memahami bahwa kebebasan beragama bukan sekadar hak yang tertulis dalam konstitusi, melainkan hak yang harus dijamin dalam kehidupan nyata. Novel ini mengingatkan bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi alasan untuk merampas hak seseorang atas rasa aman, tempat tinggal, maupun martabat sebagai manusia.

Pada akhirnya, novel Maryam merupakan kritik sosial yang sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Meskipun keberagaman sering dibanggakan sebagai identitas bangsa, berbagai kasus intoleransi menunjukkan bahwa pekerjaan rumah kita masih panjang. Novel ini mengajarkan bahwa toleransi tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata: menghormati perbedaan, melindungi kelompok minoritas, dan menempatkan kemanusiaan di atas segala bentuk prasangka.

Luka intoleransi yang digambarkan dalam novel Maryam mungkin berawal dari kisah satu komunitas kecil di Lombok. Namun, pesan yang dibawanya jauh lebih besar yaitu selama masih ada warga negara yang kehilangan haknya karena keyakinan yang dianut, maka luka intoleransi di Indonesia belum benar-benar sembuh.

Firman Setiawan

Penulis: Luqy El Dayyan

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bagaimana perasaanmu membaca artikel ini?

Bagikan:
Artikel berhasil disimpan