JATENGKU.COM, Jakarta — Kehamilan adalah suatu proses yang terjadi secara alami. Perubahan yang dialami oleh wanita selama masa kehamilan yang normal bersifat fisiologis dan bukan merupakan masalah penyakit. Oleh sebab itu, perawatan yang diberikan juga bertujuan untuk meminimalkan campur tangan. Kehamilan merupakan suatu pengalaman yang sangat berarti bagi perempuan, keluarga, dan masyarakat. Tindakan ibu selama kehamilan dapat memengaruhi kehamilannya, serta cara ibu dalam memilih penyedia layanan persalinan akan berdampak pada kesehatan ibu dan bayi yang dilahirkan. Profesional medis perlu menjaga kesehatan ibu dan bayi serta menghindari komplikasi selama kehamilan dan persalinan sebagai satu kesatuan yang utuh (Taufan, 2014).

Kehamilan pada manusia dibagi menjadi tiga fase trimester untuk lebih mudah memahami proses perkembangan janin. Trimester I (minggu 1–13) merupakan fase dengan risiko tinggi terhadap keguguran (kematian alami embrio atau janin), sedangkan di trimester II (minggu 14–26), perkembangan janin dapat diamati dan diidentifikasi. Trimester III (minggu 27–40) menandai awal dari viabilitas, yang berarti janin mampu bertahan hidup jika terjadi kelahiran prematur atau persalinan yang diinduksi.
Berdasarkan penelitian Bobak et al. (2004), persalinan adalah proses keluarnya janin, plasenta, dan membran dari rahim melalui jalan lahir. Proses persalinan adalah cara pengeluaran hasil konsepsi (janin atau ari) yang telah cukup bulan atau hidup di luar ibu melalui jalan lahir atau metode lain, baik dengan bantuan maupun tanpa bantuan (kekuatan alami) (Manuaba, 1998).
Federasi Obstetri dan Ginekologi Internasional mendefinisikan kehamilan sebagai peristiwa fertilisasi atau penyatuan antara spermatozoa dan ovum, diikuti dengan nidasi atau implantasi. Jika dihitung dari waktu fertilisasi sampai kelahiran bayi, kehamilan yang normal berlangsung (Maslim, 2013; Davidsion, 2018) selama 40 minggu atau 10 bulan lunar, atau sembilan bulan menurut kalender internasional. Kehamilan dibagi menjadi tiga trimester, di mana trimester pertama berlangsung selama 12 minggu, trimester kedua selama 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan trimester ketiga juga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40).
Kecemasan yang dirasakan ibu selama masa kehamilan, terutama saat proses melahirkan, dapat menyebabkan ketegangan yang menghalangi tubuh untuk rileks, mengakibatkan kelelahan, atau bahkan berdampak pada kondisi janin. Keadaan ini mengakibatkan otot-otot dalam tubuh menjadi tegang, terutama yang berada di sepanjang jalan rahim, sehingga mengalami kesulitan untuk mengembang.
Selain itu, ketidakstabilan emosi dapat memperburuk rasa sakit. Menjelang waktu melahirkan, penting bagi ibu hamil untuk mencapai ketenangan demi kelancaran proses persalinan. Semakin banyak ketenangan yang dimiliki ibu saat menghadapi persalinan, semakin lancar jalannya proses tersebut.
Dalam konteks teori Buffering Hypothesis, terdapat pandangan bahwa dukungan sosial berpengaruh terhadap kesehatan dengan memberikan perlindungan terhadap dampak negatif dari stres. Perlindungan ini berfungsi secara efektif terutama saat individu berhadapan dengan stres yang signifikan. Dukungan dari keluarga, khususnya yang diberikan oleh suami, bisa menciptakan ketenangan batin dan kebahagiaan bagi sang istri.
Istilah kecemasan (Anxiety Disorder) merujuk pada kondisi emosional yang mengganggu atau tidak nyaman yang mencakup penafsiran subjektif serta rangsangan fisiologis seperti bernapas cepat, wajah memerah, detak jantung meningkat, dan berkeringat. Kartono (2011) menjelaskan bahwa kecemasan adalah campuran perasaan yang terdiri dari ketakutan dan kekhawatiran tentang masa depan tanpa alasan yang jelas untuk rasa takut tersebut.
Ciri-ciri utama dari gangguan kecemasan umum adalah adanya ketakutan dan kecemasan yang berlangsung secara terus-menerus serta perasaan tak terbendung bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, disertai rasa takut yang sangat intens yang muncul hampir setiap hari selama enam bulan dan tidak disebabkan oleh faktor fisik seperti penyakit, penggunaan obat, atau konsumsi kafein yang berlebihan. Gejala dari gangguan ini termasuk kesulitan untuk beristirahat atau rasa gelisah, tantangan dalam berkonsentrasi, mudah tersinggung, ketegangan yang berlebihan, gangguan tidur, dan kecemasan yang tidak diinginkan (Wade dan Tavris, 2007).
Keluarga merupakan sekelompok orang, dua atau lebih, yang tinggal bersama, terikat atau tidak oleh hubungan perkawinan maupun adopsi. Anggota dalam keluarga berinteraksi, berkomunikasi, dan menjalankan peran masing-masing (Friedman, 2010).
Dalam masyarakat, keluarga dianggap sebagai unit terkecil yang terdiri dari kepala keluarga serta individu yang tinggal bersama di bawah satu atap dan saling bergantung satu sama lain (Departemen Kesehatan RI, 1998 dalam Setiadi, 2008). Dari penjelasan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa keluarga adalah komponen terkecil dalam masyarakat yang terbentuk dari dua orang atau lebih, terlepas dari adanya hubungan perkawinan atau adopsi, dengan interaksi dan pelaksanaan peran serta tanggung jawab antar anggota.
Dukungan keluarga mencakup seluruh bentuk bantuan yang diberikan oleh anggota keluarga, yang bertujuan memberikan kenyamanan baik fisik maupun psikologis bagi individu yang menghadapi tekanan atau stres.
Dukungan keluarga merupakan proses interaksi antara anggota keluarga dengan sosial di sekitar mereka, yang dapat diakses oleh keluarga dan bersifat mendukung serta memberikan bantuan kepada anggotanya (Friedman, 2010). Menurut Widyastuti (2009), dukungan keluarga dapat diperoleh dari sumber internal, termasuk dukungan dari pasangan, saudara, serta anggota keluarga besar lainnya.
Kehadiran orang tua kandung dan mertua sangat berarti dalam kehamilan. Mereka sering datang berkunjung selama masa kehamilan. Seluruh keluarga berdoa agar ibu dan bayi selamat. Meskipun orang tua kandung dan mertua berada di tempat yang jauh, dukungan melalui telepon, surat, atau doa dari jarak jauh sangat diharapkan (Yeyeh Rukiyah, 2013).
Hasil dan Pembahasan
1.1 Assessment (Pengkajian)
Assessment yang komprehensif adalah langkah penting untuk mendeteksi adanya masalah kesehatan mental pada ibu hamil sekaligus menilai kontribusi dukungan keluarga sebagai faktor perlindungan atau kemungkinan risiko.
Evaluasi kesehatan mental untuk ibu yang sedang hamil harus dilakukan secara lengkap, rutin (setiap tiga bulan), dan harus menitikberatkan pada aspek keluarga. Proses evaluasi dilakukan kepada ibu hamil dengan memanfaatkan teknik wawancara, pengamatan, dan alat ukur psikologis untuk menilai tingkat dukungan dari keluarga dan kesehatan mentalnya.
Hasil analisis menunjukkan beberapa temuan utama, di mana elemen-elemen assessment yang disarankan adalah sebagai berikut.

1.2 Diagnosis
Diagnosis untuk ibu hamil yang menghadapi tantangan kesehatan mental harus secara jelas mempertimbangkan kontribusi dukungan dari keluarga, baik sebagai penyebab potensial, faktor yang memperburuk, atau sasaran untuk tindakan intervensi.
Diagnosis medis (DSM-5-TR) dan diagnosis keperawatan (NANDA-I) saling melengkapi. Diagnosis medis menegaskan jenis gangguan mental yang terjadi, sedangkan diagnosis keperawatan mengidentifikasi masalah dalam keterampilan mengatasi dan isolasi sosial yang muncul akibat minimnya dukungan dari keluarga.
Penegakan diagnosis melalui wawancara dengan anggota keluarga sangat disarankan untuk meningkatkan keakuratan. Dengan penegakan diagnosis yang memadai, tindakan intervensi untuk memperkuat dukungan keluarga dapat dilakukan dengan cara yang terstruktur dan personal.
Beberapa isu yang sering dihadapi oleh ibu hamil meliputi:
- Gangguan Kecemasan
- Gangguan Depresi
- Adjustment Disorder
Proses diagnosis mempertimbangkan:
- Lama gejala
- Tingkat keparahan
- Pengaruh terhadap aktivitas sehari-hari
1.3 Intervensi
Intervensi yang sukses dalam menangani masalah kesehatan mental pada ibu hamil yang disebabkan oleh minimnya dukungan dari keluarga harus difokuskan pada peningkatan dukungan tersebut.
Psikoedukasi untuk anggota keluarga merupakan strategi awal yang terbukti paling efektif dalam mengatasi depresi ringan hingga sedang. Untuk kondisi yang lebih serius atau rumit, diperlukan terapi kognitif perilaku yang melibatkan pasangan, penggunaan obat-obatan, atau kombinasi dari keduanya.
Kelompok dukungan sebaya menjadi pilihan penting ketika dukungan dari keluarga tidak dapat diakses. Keberhasilan dari intervensi sangat bergantung pada partisipasi aktif dari keluarga (terutama pasangan), kemampuan tenaga kesehatan, dan dukungan dari sistem layanan.
Pelaksanaan di fasilitas kesehatan primer harus mengatasi masalah logistik dengan inovasi seperti intervensi berbasis virtual serta pelatihan yang berkesinambungan. Dengan intervensi yang sesuai, dukungan dari keluarga dapat ditingkatkan secara signifikan, yang pada gilirannya dapat menurunkan tingkat depresi dan kecemasan pada masa perinatal serta memperbaiki hasil bagi ibu dan janin.
Berikut ini adalah pendekatan yang telah berhasil diterapkan:
Edukasi Psikologis untuk Keluarga
Target: Suami, orang tua, atau anggota keluarga dekat yang tinggal dengan ibu hamil.
Sesi: 4–6 pertemuan (masing-masing durasi 60 menit) selama masa kehamilan.
Terapi Kognitif Perilaku Berbasis Pasangan (Cognitive Behavioral Therapy for Couples / CBT)
Metode: 8–12 sesi yang melibatkan ibu dan pasangannya.
Fokus: Mengidentifikasi pikiran negatif otomatis yang terkait dengan kehamilan seperti “Saya tidak akan menjadi ibu yang baik” dan menggantinya dengan pemikiran yang lebih positif.
Pasangan dilatih menjadi co-therapist untuk menantang pikiran yang tidak menguntungkan tersebut.
Kesimpulan
Dukungan dari anggota keluarga sangat berarti. Diharapkan keluarga memberikan dukungan melalui saran, arahan, atau umpan balik terkait jadwal pemeriksaan kesehatan ibu dan kehamilan. Selain itu, keluarga juga dapat menambah pengetahuan tentang informasi kehamilan dan persalinan secara khusus, sehingga dapat berbagi informasi penting mengenai konsumsi obat dan menjaga kesehatan serta kehamilan kepada ibu.
Ibu hamil pun bisa memperluas wawasan mengenai kehamilan dengan membaca tentang cara menjaga kehamilan yang sehat di media sosial atau di internet, serta membangun hubungan saling percaya dengan tenaga kesehatan. Dengan demikian, kecemasan yang dialami ibu hamil dapat berkurang.
Dalam pandangan psikologi klinis, terutama yang berkaitan dengan Gangguan Kecemasan pada wanita hamil, dukungan baik dari keluarga maupun masyarakat sangatlah krusial. Ini dapat membantu para ibu hamil menurunkan tingkat kecemasan, meningkatkan rasa aman, dan mendukung kesehatan mental mereka selama kehamilan.
Namun, tidak semua ibu hamil mendapatkan dukungan yang sejajar dengan kebutuhan mereka karena berbagai faktor yang menghalangi. Salah satu penghalang utama adalah kurangnya pemahaman anggota keluarga tentang kondisi psikologis selama masa kehamilan. Ketika anggota keluarga tidak menyadari bahwa perubahan emosi dan kecemasan merupakan hal yang biasa bagi ibu hamil, mereka menjadi cenderung untuk mengabaikan atau meremehkan perasaan yang dialami oleh ibu tersebut.
Hal ini membuat ibu hamil merasa tidak dipahami dan kekurangan dukungan emosional yang diperlukan.
Di samping itu, komunikasi yang tidak efektif dalam lingkungan keluarga turut berkontribusi sebagai kendala. Hubungan yang tidak harmonis, adanya pertikaian, atau kurangnya transparansi dalam mengungkapkan perasaan dapat menyebabkan kebutuhan emosional ibu hamil terabaikan. Situasi ini dapat menambah rasa tertekan dan memperburuk kecemasan yang mereka alami.
Masalah ekonomi dalam keluarga juga menjadi faktor penghambat bagi dukungan yang diperlukan. Tantangan finansial sering kali menciptakan stres bagi setiap anggota keluarga, sehingga perhatian terhadap kebutuhan emosional ibu hamil menurun. Kekhawatiran mengenai biaya persalinan, kebutuhan bayi, dan kondisi ekonomi keluarga dapat menambah kecemasan bagi ibu hamil saat menjalani kehamilan.
Faktor lain yang memainkan peran adalah kurangnya keterlibatan dari pasangan. Pasangan yang tidak cukup aktif selama masa kehamilan atau memberikan perhatian minimal dapat membuat ibu hamil merasa terasing saat menghadapi perubahan fisik dan psikis yang terjadi. Rasa kurang mendapatkan dukungan dari orang terdekat bisa meningkatkan risiko terbentuknya gangguan kecemasan.
Di ranah sosial, stigma yang terkait dengan isu kesehatan mental telah menjadi penghalang yang signifikan. Masih banyak individu dalam masyarakat yang memandang kecemasan sebagai suatu hal yang berlebihan atau sebagai tanda kelemahan individu. Oleh karena itu, wanita hamil sering kali ragu untuk berbagi perasaan cemas yang mereka alami karena khawatir akan penilaian negatif dari orang-orang di sekitar mereka.
Selain itu, keterbatasan dalam jaringan sosial serta kurangnya interaksi dengan lingkungan bisa memperkecil peluang wanita hamil dalam mendapatkan dukungan emosional atau informasi yang mereka perlukan. Wanita hamil yang jarang bersosialisasi dengan keluarga, teman, atau kelompok pendukung kehamilan biasanya memiliki akses dukungan yang lebih sedikit dibandingkan mereka yang menjalin hubungan sosial yang lebih baik.
Dengan demikian, berbagai aspek seperti kurangnya pemahaman dari keluarga, komunikasi yang tidak efektif, tantangan ekonomi, rendahnya dukungan dari pasangan, stigma sosial, serta terbatasnya jaringan sosial bisa menghalangi dukungan keluarga dan sosial bagi wanita hamil.
Rintangan-rintangan ini berpotensi meningkatkan kerentanan wanita hamil terhadap kecemasan, sehingga sangat penting bagi keluarga, pasangan, dan lingkungan sosial untuk berperan aktif dalam memberikan dukungan positif selama periode kehamilan.
Kurangnya dukungan merupakan salah satu penyebab utama yang berkontribusi pada depresi di periode perinatal. Untuk alasan ini, setiap layanan antenatal harus mencakup:
- Evaluasi rutin menggunakan Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) dan kuesioner tentang dukungan keluarga.
- Pemeriksaan awal berlandaskan DSM-5-TR untuk mendeteksi depresi perinatal.
- Intervensi yang melibatkan keluarga yang mencakup edukasi psikologis.
- CBT untuk pasangan.
- CBT untuk wanita yang sedang hamil yang diarahkan untuk meredakan stres dengan mengubah pemikiran yang pesimis menjadi lebih masuk akal dan dapat disesuaikan.
Proses yang terlibat dalam CBT mencakup penilaian, pendidikan psikologis, pengenalan pemikiran negatif, perombakan kognitif, pelatihan teknik mengatasi, pendorongan perilaku, dan juga penilaian. Metode ini telah terbukti ampuh dalam meningkatkan kesehatan mental para ibu hamil serta mempersiapkan mereka untuk menghadapi proses melahirkan dan peran baru sebagai ibu.
Contoh Tema dan Langkah CBT
Tema:
Hubungan dengan Pasangan dan Dukungan Sosial
Pikiran negatif khas:
- “Dia tidak peduli dengan kehamilanku.”
- “Aku sendirian menghadapi ini semua.”
- “Jika aku minta tolong, artinya aku lemah.”
Fokus CBT:
Melatih asertivitas dalam mengomunikasikan kebutuhan emosional dan praktis. Menantang pikiran bahwa meminta bantuan adalah tanda kegagalan.
Di sinilah hasil kuesioner dukungan keluarga berguna: skor rendah menjadi pintu masuk bagi terapis untuk membantu ibu secara konkret mengidentifikasi dukungan dan melatih keterampilan komunikasi.
Langkah: Asesmen dan Psikoedukasi (Sesi Awal)
- Validasi hasil skrining: Jelaskan bahwa skor EPDS yang tinggi menunjukkan pola pikiran/emosi yang umum terjadi pada kehamilan dan dapat diubah.
- Psikoedukasi model kognitif: Ajarkan hubungan antara pikiran – perasaan – perilaku – sensasi fisik dengan contoh sederhana.
- Sosialisasi ke model CBT: Tekankan bahwa terapi ini bukan untuk menghakimi pikiran, tetapi melatih melihatnya dari sisi lain.
- Jelaskan bahwa CBT aman selama kehamilan dan direkomendasikan sebagai lini pertama untuk depresi-kecemasan ringan hingga sedang.
- Intervensi keperawatan yang meningkatkan dukungan keluarga.
Peranan bidan, perawat dalam masyarakat, dan psikolog klinis sangat krusial dalam melaksanakan skrining sembari memberdayakan keluarga sebagai “pengobatan” alami untuk kesehatan mental wanita hamil.
Daftar Pustaka
- Dr. dr. Rusdi Maslim, SpKJ., M.Kes. (2013). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, Jakarta.
- Sulastri, J., & Gautama, M. I. (2025). Artikel penelitian. Jurnal Perspektif, 8(1), 10–19. https://doi.org/10.24036/perspektif.v8i1.825
- Yudiharto, A. (2016). Zuhrotunida, Yudiharto – 2017 – Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kecemasan Ibu Hamil Menghadapi Proses Persalinan Di Puskesmas Kecamatan. 60–70.
- American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (5th ed., text rev.). Washington, DC: American Psychiatric Publishing.
- Gelard C. Davidsion. (2018). Psikologi Abnormal Edisi Ke-9. Rajawali Pers.
- Eka Mustika Yanti, S.SST., M. (2023). Buku Psikologi Kehamilan, Persalinan, dan Nifas. Penerbit NEM – Anggota IKAPI.
- Tarhan, N. (2024). The Psychology of Women. Qaf.
- Bemj, B. E. J. (2026). Bunda Edu-Midwifery Journal (BEMJ), 2, 474–485.
- Hidayah, R., Sholih, A., Agustina, L., & Rahayu, R. (2021). Template of Jurnal Economia. Jurnal Economia, 17(1), 34–48.
- Sundari, D. T. (n.d.). Kehamilan di PMB Marlina.
