JATENGKU.COM, BANTUL — Lima mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), yakni Sera, Putri, Diana, Manda, dan Fani, mengikuti kegiatan konservasi pesisir bersama Yayasan Aksi Konservasi Yogyakarta (YAKY) pada Minggu, 26 April 2026 di Pantai Pelangi, Bantul. Keikutsertaan tersebut merupakan bagian dari tugas lapangan mata kuliah Pendidikan Pengembangan Berkelanjutan yang berkaitan langsung dengan SDGs 14:Life Below Water. Dalam satu hari, tiga kegiatan berjalan secara berurutan: edukasi penyu dan pelepasan tukik, penanaman pandan laut, serta pembersihan sampah sedotan plastik di sekitar pantai.
Ekosistem pantai Bantul telah menghadapi penurunan populasi penyu akibat pencemaran dan kerusakan habitat, erosi garis pantai karena berkurangnya vegetasi, serta ancaman sampah plastik yang mudah termakan biota laut. Merespons kondisi tersebut, komunitas secara rutin dan terbuka menyelenggarakan program konservasi berbasis komunitas. Pada kegiatan tersebut, mahasiswa UNY hadir sebagai peserta yang terlibat langsung, sekaligus mengikuti sesi sharing bersama anggota komunitas mengenai tantangan konservasi pesisir sehari-hari. Kegiatan dipandu oleh Mas Daru Aji Saputro selaku Ketua YAKY, dan juga didampingi oleh tim komunitas YAKY.
Ketiga program yang dijalankan merupakan satu rangkaian yang saling melengkapi: tukik yang dilepas juga membutuhkan pantai yang bersih dan vegetasi yang kuat sebagai penanda lokasi bertelur yang amanokasinya dari garis pesisir ke arah darat hingga batas terluar bentuk lahan kepesisiran di pedalaman. Bagi kelima mahasiswa, kegiatan tersebut sangat memberikan gambaran tentang bagaimana komunitas lokal menerjemahkan prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi aksi nyata.
Kegiatan 1: Edukasi Penyu dan Pelepasan Tukik

Rangkaian kegiatan diawali dengan edukasi oleh tim YAKY. Peserta mendapat pemaparan tentang biologi penyu, ancaman yang dihadapi satwa dilindungi, serta cara melindungi sarang penyu. Dalam sesi ini, peserta juga diajak melihat langsung penyu yang sedang dalam proses pengelolaan termasuk penyu yang ditaruh di tempat khusus oleh pihak komunitas, serta sarang penyu bertelur yang dikelola YAKY. Sesi edukasi berlangsung cukup panjang dan memberikan banyak informasi mengenai siklus hidup penyu, kondisi populasinya saat ini, hingga peran komunitas dalam menjaga keberlangsungannya.
“Penyu termasuk hewan yang dilindungi karena jumlahnya semakin berkurang akibat pencemaran laut, sampah plastik, kerusakan habitat, dan perburuan liar. Karena itu, pelepasan tukik menjadi salah satu upaya menjaga kelestarian penyu.” — Tim Komunitas YAKY.
Setelah sesi edukasi, peserta dipandu untuk melepaskan (release) tukik ke laut. Tukik yang dilepas berusia kurang dari satu minggu dan diletakkan menggunakan batok kelapa agar tidak bersentuhan langsung dengan tangan manusia, karena sentuhan manusia dapat meninggalkan bau asing yang mengganggu insting alami tukik. Begitu diletakkan di pasir, tukik-tukik tersebut akan berjalan sendiri menuju laut tanpa bantuan.
“Setiap tukik yang kita lepaskan adalah investasi untuk masa depan. Dari seratus ekor tukik, mungkin hanya satu yang bertahan hingga dewasa. Maka setiap ekor sungguh sangat berharga dan harus kita jaga dengan sepenuh hati.” — Mas Daru Aji Saputro, Ketua YAKY.
Kegiatan 2: Penanaman Pandan Laut

Program kedua adalah penanaman pandan laut di sepanjang garis Pantai Pelangi secara bergotong royong. Sebelum memulai, relawan YAKY terlebih dahulu menjelaskan cara menanam yang benar serta memberikan informasi mengenai manfaat pandan laut bagi ekosistem pesisir. Alat tanam telah disediakan oleh tim YAKY, sehingga peserta tinggal menggali lubang dan menanam sesuai arahan.
“Selanjutnya adalah menanam tanaman pandan laut di sekitar pantai sebagai upaya menjaga ekosistem pesisir. Tanaman pandan laut memiliki manfaat untuk membantu mengurangi abrasi pantai serta menjaga kestabilan pasir di kawasan pesisir.” — Tim Komunitas YAKY.
“Saat menanam pandan laut, pastikan akar tanaman tertutup pasir dengan baik agar tanaman lebih mudah tumbuh dan tidak mudah roboh terkena angin pantai.” — Tim Komunitas YAKY.
Peserta akan bergantian menggali dan menanam, memastikan setiap tanaman tertanam sesuai arahan. Pandan laut memiliki peran penting bagi ekosistem pesisir akarnya membantu menahan erosi dan menstabilkan pasir pantai, sementara juga menjadi tempat berlindung bagi penyu saat mencari lokasi bertelur.
Kegiatan 3: Aksi Bersih Pantai Sampah Sedotan Plastik

Program terakhir adalah aksi bersih pantai yang difokuskan pada pengumpulan sampah sedotan plastik di sekitar area Pantai Pelangi. Peserta dibagi dalam kelompok kecil agar seluruh area pantai dapat tertangani secara merata. Sedotan plastik menjadi target utama pengumpulan karena ukurannya yang kecil membuatnya mudah tercecer di pasir dan berpotensi akan termakan oleh biota laut di sekitar pantai.
“Selain pelepasan tukik, selanjutnya adalah melakukan aksi bersih pantai dengan mengumpulkan sampah di sekitar area pantai. Kegiatan ini bertujuan untuk menjaga kebersihan lingkungan pesisir serta mengurangi sampah yang dapat mencemari laut dan membahayakan ekosistem.”— Tim Komunitas YAKY.
Mahasiswa turut aktif dalam mengumpulkan sedotan plastik yang tersebar di sepanjang pantai dan telah disediakan karung sampah dari pihak komunitas. Aksi ini menjadi penutup yang relevan dari keseluruhan rangkaian kegiatan menjaga kebersihan pantai merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pelestarian ekosistem pantai secara menyeluruh.

Keterlibatan kelima mahasiswi UNY dalam kegiatan tersebut menghasilkan dampak yang dapat dirasakan langsung: tukik terlepas ke habitatnya, pandan laut tertanam di garis pantai sebagai penahan abrasi sekaligus pelindung bagi penyu, dan area Pantai Pelangi menjadi lebih bersih dari sampah sedotan plastik. Kegiatan ini secara langsung berkontribusi pada pencapaian SDGs 14: Life Below Water melalui pelestarian spesies laut, pemulihan vegetasi pesisir, dan pengurangan polusi plastik.
“Kami tidak bisa bekerja sendirian. Laut ini milik kita bersama, dan menjaganya pun harus bersama-sama.” — Mas Daru Aji Saputro, Ketua YAKY.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa dapat berkontribusi aktif dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan melalui keterlibatan langsung bersama komunitas lokal yang telah konsisten bekerja di lapangan.
“Laut yang sehat adalah warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan untuk generasi berikutnya. Dengan menjaga ekosistem pesisir hari ini, kita sedang memastikan masa depan yang lebih baik untuk semua.” — Mas Daru Aji Saputro, menutup rangkaian kegiatan.